Saturday, September 26, 2015

Osama Abdul Mohsen; Lari, Dijegal dan Kini Mencoba Bangkit Lagi

Beberapa waktu lalu beredar sebuah video yang memperlihatkan reporter Hungaria bernama Petra László menjegal seorang pencari suaka yang menggendong anaknya yang masih berusia 7 tahun, Zaid. Pria itu bernama Osama Abdul Mohsen. Kejadian yang menimpa Osama tersebut terjadi ketika Osama dan ribuan pengungsi Suriah mencoba untuk masuk ke wilayah negara Jerman melewati Hungaria melalui desa Röszke. Tuhan masih menyayangi Osama dan keluarganya. Dia berhasil selamat sampai di Jerman. Dari sini cerita baru lembaran hidupnya pun dimulai.

Jauh sebelum perang sipil terjadi di Suriah, dia adalah seorang pelatih di klub devisi 1 Liga Suriah, Al-Fotuwa SC. Dari Jerman, berita ini pun tersebar luas. Hingga akhirnya berita ini sampai di akademi CENAFE. Sebuah sekolah kepelatihan yang terletak di dekat ibu kota negara Spanyol, Madrid. Dengan bantuan dari Mohamed Labrouzi, salah satu lulusan akademi CENAFE yang bisa berbahasa Arab, CENAFE akhirnya mampu melakukan kontak dengan Osama. Akademi menawarkan bantuan untuk membawa keluarganya ke Spanyol dan memulai lagi hidupnya untuk kembali meniti karir menjadi pelatih sepak bola.

“Kita akan bekerja sama dengan Getafe, hingga nantinya Osama bisa melatih, seperti yang dia lakukan dulu di Suriah. Dan untuk anaknya, Zaid, dia bisa bermain untuk tim, siapa tau dalam waktu dekat hal yang serupa juga dilakukan klub Spanyol lainnya?. Sangat disayangkan Osama dan anaknya dikenal karena dia dijegal oleh seorang jurnalis yang dengan jelas memperlihatkan xenophobia dan intolerannya, akan tetapi di Getafe kita akan memberikan semua bantuan yang mereka butuhkan”. Sara Hernandez, Walikota Getafe.

www.foxsports.com.au
Mohamed Labrouzi kemudian dikirim langsung ke Jerman untuk menjemput Osama beserta kedua anaknya untuk diterbangkan ke Getafe. Saat ini Osama dan dua anaknya tinggal di sebuah apartemen, dengan biaya yang diberikan klub, sedangkan istri dan dua anaknya yang lain masih berada di Turki. Akan tetapi pihak akademi dengan bantuan pemerintah Spanyol terus berusaha untuk bisa menyatukan keluarga tersebut. Rencananya, beberapa bulan mendatang setelah Osama menjalani pelatihan bahasa Spanyol yang difasilitasi klub, dia akan langsung dikontrak menjadi pelatih di akademi sepak bola Getafe.

www.thequint.com
Perhatian terhadap Osama juga datang dari klub tetangga Getafe, Real Madrid. Klub ibu kota tersebut mengundang Osama beserta kedua anaknya ke pusat pelatihan klub. Tidak hanya itu saja, mereka juga diundang untuk menyaksikan pertandingan La Liga antara Real Madrid melawan Granada di Santiago Barnebeu. Florentino Perez, presiden klub, memberikan sambutan langsung kepada Osama. Sedangkan Zaid, anak Osama, mendapat perhatian yang mungkin tidak akan dia lupakan sepanjang hidupnya. Dia mendapat kesempatan untuk menjadi pendamping Cristiano Ronaldo untuk masuk ke lapangan sebelum pertandingan berlangsung. 

Apabila keberuntungan mulai menaungi Osama dan keluarganya, lantas bagaimana dengan nasib reporter yang menjegalnya? Ya, kalau orang Jawa sering mengatakan sebuah kiasan “lemah teles, gusti allah sing bales” (intinya, segela perbuatan yang kita lakukan, baik atau buruk, pasti ada balasan dari Tuhan YME). Setelah video yang memperlihatkan dia menjegal Osama tersebar, Petra László akhirnya menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka. Akan tetapi ada konsekuensi lain yang harus dia tanggung akibat dari perbuatannya. Dia dipecat dari tempat dia bekerja, TV Nasional Hungaria, N1TV. Belum berhenti disitu, akibat tindakannya pula saat ini dia menghadapi tuntutan criminal.  


Licia Ronzulli; Wanita "Tangguh" Italia di Parlemen Uni Eropa


“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.” — Jill Churchill
Beberapa waktu lalu, saya secara tidak sengaja melihat postingan seorang teman tentang Licia Ronzulli. Karena penasaran akhirnya ngulik-ngulik info tentang dia.

Licia Ronzulli adalah gambaran nyata seorang wanita tangguh. Dia merupakan anggota parlemen Uni Eropa dari negara Italia. Dia mengawali karir politiknya kala bergabung dengan partai The People of Freedom. Partai yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Italia sekaligus Presiden klub Serie A, AC Milan, Silvio Berlusconi. Pada tahun 2009, dia terpilih menjadi anggota parlemen Uni Eropa setelah bergabung dengan partai Forza Italia. Di parlemen Uni Eropa dia memegang sejumlah jabatan penting, salah satunya tergabung di komisi Women Right and Gender Equality.

Akan tetapi bukan itu yang membuatnya tangguh. Ketangguhan dia sebenarnya adalah apa yang terlihat dalam rentetan gambar ini. Tercatat selama dua tahun, antara 2010-2012 dia secara rutin membawa anaknya, Vittoria dalam sidang parlemen di kota Strasbourg, Perancis. Gambar pertama adalah ketika Vittoria baru berumur 6 minggu, dan gambar terakhir adalah ketika sang bocah berumur 2 tahun. Selain foto tersebut, juga terdapat video yang memperlihatkan bagaimana tingkah polah lucu Vittoria selama berlangsungnya sidang parlemen. Sang ibu sama sekali tidak terganggu dengan anaknya, dia tetap bisa fokus menyampaikan aspirasi kepada pemimpin sidang.  

“Komisi kami telah banyak sekali bekerja menghasilakan berbagai kebijakan di Parlemen Uni Eropa, dan apa yang telah kami lakukan tersebut tidak terlalu menarik bagi pers. Kemudian semua mulai berubah ketika saya membawa Vittoria ke siding parlemen, tiap orang ingin mewawancarai saya. Yang saya lakukan ini bukanlah sebuah gesture politik, ini semua murni tanggung jawab saya sebagai seorang ibu, selain itu saya juga masih dalam tahap memberikan ASI untuk Vittoria. Saya termasuk beruntung memiliki keistimewaan untuk bisa membawa anak saya ketempat saya bekerja, masih banyak ibu di luar sana yang tidak seberuntung saya”. -- Lucia Ronzulli.

Banyak yang menyebut apa yang dia lakukan hanya demi kepentingan politik semata. Akan tetapi dia dengan tegas menyatakan bahwa apa yang dia lakukan merupakan sebuah hal yang wajar bagi seorang ibu. Dia mampu membuktikan bahwa pekerjaan sebagai politisi tidak sedikitpun membuatnya lupa terhadap pekerjaan utamanya kala itu, menjadi orang tua. Seperti yang dikatakan Jill Churchill, bahwa tidak mungkin ada seorang ibu yang sempurna, akan tetapi banyak sejuta cara untuk bisa menjadi ibu yang baik. Begitu juga dengan Lucia Ronzulli, mungkin dia bukanlah ibu yang sempurna, tetapi paling tidak, dia membuktikan telah melakukan banyak hal untuk layak mendapatkan predikat “ibu yang baik”.

Forza Lucia Ronzulli...

Sunday, June 28, 2015

Televisi, Kutunggu Kabar Baik Darimu

funnyjunk.com
Tampak pembawa acara saling bercanda. Tertawa terbahak-bahak satu sama lain. Mereka saling mencela, saling mempermalukan, saling lempar banyolan yang menurut saya tidak lucu. Penonton di acara tersebut juga tampak aktif. Aktif tertawa, lebar-lebar sekali mereka membuka mulutnya. Ibarat film kartun, ketika mereka membuka mulut akan nampak banyak sekali asap yang keluar dari mulut mereka. Asap canda yang hampa, berasal dari guyonan tanpa makna hasil dari saling cela.

Ada lagi lainnya. Acara yang katanya ajang pencarian bakat bernyanyi. Musik lokal nan mendayu sampai musik jazz yang terkadang terdengar rumit untuk dinikmati dibawakan oleh para kontestannya. Saya kurang tau pasti, akan tetapi seringkali ketika saya menonton salah satu tv nasional, acara ini seperti tayang seharian. Pagi, siang sampai dengan malam. Permasalahan keluarga hingga tampilan busana dibahas.

Satu pertanyaan yang ada dipikiran saya ketika melihat acara seperti ini. “Berapa banyak uang yang didapatkan dari hasil “sms dukungan” kepada para kontestan?”. Saya yakin jumlahnya pasti sangat besar. Bayangkan saja, acara semacam ini memiliki rating yang sangat tinggi di negeri ini. Tayangnya pun pada jam-jam premium. Setiap sms dibandrol Rp. 2.000, dikalikan dengan berapa juta orang yang mengirimkan “dukungan” tersebut. Apakah penonton dan peserta mengetahui hasil pasti dari jumlah dukungan yang didapat? Saya yakin tidak.

Masih ada tayangan lainnya. Berita. Tayangan ini mulai menjadi tayangan favorit saya semenjak kelas 3 SMP. Sebelumnya, saya sangat membencinya. Sebabnya sepele, eyang kakung saya seringkali menyaksikan berita berbarengan dengan tampilnya serial kartun “Kapten Tsubasa” dan “Slam Dunk”. Otomatis saya mengalah, tv dirumah kala itu hanya satu. Dan eyang saya hanya sekali sehari menyaksikan tv, berita.

Saat ini tiap kali menyaksikan berita perasaan ini terbagi dua. Apabila diprosentasekan, 10% bahagia dan 90% sedih. Cobalah anda sesekali menyaksikan berita. Di stasiun apa saja. Sebagian topik yang mereka beritakan berisikan berita negatif. Tindak kriminal, pelanggaran hukum, saling serang argument antar politisi atau pengacara, kemiskinan dan masih banyak lagi hal yang kurang enak untuk dinikmati sebagai berita. Prosentasi 10% yang menurut saya membawa berita bahagia paling-paling berisikan liputan mengenai lezatnya kuliner nusantara. Paling sering itu.

Apa yang ditayangkan oleh televisi nasional tersebut tidaklah salah. Tayangan yang ada saat ini merupakan “pilihan” dari penonton. Bagaimana tidak? Tayangan tersebut tidak mungkin tampil apabila tidak ada “permintaan” dari penontonnya. Masyarakat kita sejauh ini terbukti gemar menikmati drama kosong. Tayangan yang tanpa makna, jelas sekali hampa. Mungkin nilai positifnya ada, tapi sangat sedikit sekali prosentasenya.

Acara berita masih memegang teguh asas “bad news is good news”. Sebagian besar yang diberitakan sangat tidak mengenakkan. Berita tersebut tak jarang membuat banyak orang menjadi pesimis. Mereka mulai kehilangan kepercayaan terhadap kelangsungan bangsa ini. Bahkan ada pula yang menjadi apatis, tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi. Mereka muak dan bosan dengan keadaan sosial sekitar. Mereka hanya memikirkan individu masing-masing.

Saya bersyukur, saya masih percaya dengan kelangsungan negeri ini. Saya masih memiliki rasa peduli terhadap keadaan sosial masyarakat kita. Untuk itulah saya mencoba berbagi keluh kesah ini. Keluhan yang saya yakin banyak dirasakan oleh sebagian besar rakyat negeri. Hanya saja keluhan ini terpecah menjadi dua, menjadi sebuah pesimisme atau menjadi sebuah optimisme.

Khusus bagi yang optimis, kita masih memiliki solusi. Dari berbagai tayangan yang ada di televisi nasional saat ini, 10% masih berisi berita bahagia. Dari 10% berita bahagia tersebut kita masih bisa memaksimalkannya. Ketika kita menyaksikannya, sebarkan secara luas apa yang ada didalamnya. Ajak sebanyak mungkin saudara dan teman untuk menyaksikan acara tersebut ketika tanyang. Kita tularkan energi positif dari tayangan tersebut seluas-luasnya. Tunjukkan kepada mereka bahwa kondisi negeri ini tidak seburuk yang mereka kira. Masih banyak sekali di luar sana, entah dimana, orang-orang yang dengan teguh senantiasa membawa perubahan positif bagi lingkungannya.


Di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan pesan untuk stasiun televisi negeri ini. Saya sadar, saya bisa menikmati dengan cuma-cuma tayangan yang anda berikan. Paling banter, saya hanya perlu membayar listrik saja. Akan tetapi sebagai penonton, saat ini saya hanya berharap, anda berkenan memberikan porsi tambahan bagi tayangan yang berisi berita bahagia. Bukan berarti menutup mata terkait dengan beberapa kondisi negeri ini yang memang buruk. Akan tetapi dengan berita bahagia tersebut harapan akan munculnya optimisme bagi masyarakat akan kembali ada. 

Thursday, June 18, 2015

Totti Masih Tetap Sama

http://ramadaris.deviantart.com/gallery/
Pada hari ini 13 tahun yang lalu, Korea Selatan berhasil memastikan diri melangkah ke babak perempat-final Piala Dunia 2002 usai mengalahkan Italia 2-1 lewat sistem golden goal. Di pertandingan itu, ada tiga lakon utama yang mencuri perhatian.

Pertama adalah Ahn-Jung Hwan dengan golden goal-nya, kedua adalah wasit Byron Moreno dengan kartu merah kontroversialnya dan ketiga adalah Francesco Totti yang menjadi pesakitan dari keputusan wasit.

Kini 13 tahun berselang, ketiga orang tersebut memiliki cerita yang berbeda. Ahn Jung Hwan telah memutuskan gantung sepatu pada tahun 2011. Mungkin masih asik membina rumah tangganya bersama dengan mantan miss Korea 2001. Berbeda dengan wasit Byron Moreno. Pada tahun 2010 dia ditangkap di Bandara JFK karena terlibat penyelundupan narkoba. Dia sempat dipenjara 2 tahun sebelum dibebaskan pada 2012 yang lalu.

Bagaimana dengan Francesco Totti? Dia masih sama. Tetap menjadi simbol Roma. Tetap bermain stabil di usia senja. Masih tetap membuat tiap supporter Roma yang ke stadion tidak pernah lupa untuk membawa spanduk “No Totti No Party”. Dia masih tetap berusaha membawa "kota abadi" menaklukkan Italy.

Friday, March 20, 2015

ROMA

Tak ada judul yang lebih menarik, cukup itu saja, Roma. Dari satu kata itu mengandung banyak sekali makna. Mulai dari nama sebuah kota, biduan nada yang mendapat predikat raja, hingga sebuah klub sepak bola di Italia. Dalam tulisan ini, saya memilih arti/maksud ketiga, klub sepak bola. Roma.

Sungguh malang sekali nasibnya. Sudah sekitar dua bulan lamanya "derita" silih berganti menghampiri. Tak ada jeda, tak ada rehat, bagai segar udara yang tak hentinya kita serap. Istilah sudah jatuh tertimpa tangga masih belum cukup menjadi gambaran keadaannya. Saya kira lebih dari itu. Buruk.

Apa penyebab "derita" itu terjadi tidaklah penting. Saya yakin, pasti kita semua memahami penyebabnya. Saya sebut kita, karena saya yakini anda diluar sana banyak yang peduli padanya, Roma. Kita merasakan hal yang sama, kecewa. Akan tetapi yang paling penting dari keadaan ini adalah bagaimana kita menanggulanginya.

Memaki dan mencela tanpa henti tidak akan pernah menjadi sebuah solusi. Keduanya hanya akan menjadi sebuah racun mematikan yang akan menggerogoti sisa-sisa semangat dan tenaga yang mencoba kembali dibangun oleh staff dan pemain klub. Lebih penting lagi adalah bagi kita yang merasa peduli padanya, Romanisti.

Saat ini satu hal terpenting yang kita butuhkan adalah percaya. Percaya pada pemain, percaya pada pelatih, percaya pada manajemen klub. Percaya bahwa mereka senantiasa bermain dan bekerja untuk tidak mengecewakan kita, pendukungnya. Lihat saja kita sebagai pendukung melihat mereka bertubi-tubi gagal, kecewa bukan?.

Sekarang coba anda bayangkan bagaimana yang dirasakan pemain. Pastinya mereka lebih menderita dari kita. Kepala mereka tak dapat tegak, bahu mereka semakin berat, dan kaki mereka semakin lambat untuk berlari. Semua hanya karena mereka gagal memberikan rasa bahagia bagi kita.

Sangat tidak adil kalo saat ini kita mencela dan menghujat mereka. Mereka telah berusaha sekuat tenaga. Mereka juga telah mencoba berbagai cara untuk membuat kita bahagia. Kita semua tau itu, kita semua melihatnya.

Tak perlu lagi panjang berucap. Saat ini hanya ada satu hal yang dibutuhkan Roma, kita percaya pada mereka.

Thursday, October 23, 2014

#ShameOnYouSBY atau #ShameOnYou, Mana yang Lebih Tepat?


Sumber: http://www.lpmdinamika.co
Sudah lama saya tidak menulis diblog. Akhir-akhir ini, semua tulisan saya hanya tertuang pada tugas akhir saja, yang pada akhirnya berakhir juga (banyak kali kata akhir-nya yak). Kali ini saya tertarik untuk menanggapi tentang fenomena media sosial yang beberapa waktu lalu happening. Tagar #ShameOnYouSBY begitu ramai di media twiter. Selama dua hari tagar tersebut mendapatkan predikat sebagai Trending Topic World Wide (TTWW).

Pengguna twitter di negeri ini tentu saja sudah tidak asing lagi dengan predikat TTWW. Maklum saja, Indonesia, khususnya Jakarta merupakan salah satu “importir” twit terbesar sejagat. Paling sering predikat TTWW didapatkan pengguna twitter negeri ini kalo sedang berlangsung ajang pencarian bakat, tentunya anda akan tahu acara apa yang saya maksud. Tapi, kali ini predikat TTWW yang didapatkan sedikit berbeda. Berbeda karena yang tertera dalam tagar bukan merupakan nama salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat, melainkan merupakan inisial dari pemimpin negara kita.

Menjadi TTWW selama lebih dari 24 jam (setahu saya) bukanlah hal yang lumrah di twitter. Apalagi TTWW tersebut berasal dari negara kita. Akan tetapi, apabila dilihat dari permasalahan yang menjadi latar belakang munculnya tagar #ShameOnSBY maka hal tersebut bisa dikatakan wajar. Secara garis besar, tagar tersebut muncul sebagai wujud dari kekecewaan sebagian besar rakyat (terutama di media sosial) tentang tata cara pemilihan kepala daerah yang baru. Sebagian besar beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah yang selanjutnya tidak diadakan secara langsung, melainkan melalui anggota DPRD baik tingkat provinsi dan kabupaten, merupakan kemunduran dari perjalanan pelaksanaan demokrasi di negeri ini.

Salah satu yang menjadi alasan utama dari dipilihnya opsi ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa pemilihan langsung yang telah 10 tahun dilaksanakan memakan banyak sekali biaya. Penggunaan biaya yang begitu besar kemudian menjadi salah satu faktor utama terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh banyak kepala daerah. Memang benar, hal-hal tersebut merupakan salah satu kelemahan yang sampai saat ini masih terjadi dalam praktek demokrasi di negara ini. Akan tetapi, bukankah salah satu esensi dari demokrasi adalah proses? Apalagi, sistem demokrasi yang diterapkan di negara ini bisa dikatakan radikal, dalam artian perubahan dari totaliter-terpusat jaman orde baru menjadi demokrasi-otonomi daerah di jaman reformasi.

Selama 10 tahun ini Indonesia telah berproses. Dengan segala kekurangan yang masih dimiliki, akan tetapi, menurut pendapat saya, negara ini telah menunjukkan progres positif. Terlepas dari masih banyaknya kepala daerah hasil pilkada langsung yang terjerat kasus korupsi, pilkada langsung juga telah memunculkan pemimpin-pemimpin daerah yang terbukti bersih, kredibel, inovatif dan membawa perubahan di daerahnya. Lihat saja Surakarta, Surabaya, Banyuwangi, Belitung Timur, Bandung dan beberapa daerah lainnya. Di wilayah tersebut, kepala darah yang dipilih langsung terbukti telah memberikan banyak gebrakan positif dan perubahan positif.

Lantas mengapa progress positif yang telah diraih kemudian malah mencoba dihambat oleh koalisi merah putih (KMP) dengan jalan merubah pemilihan kepala daerah melalui DPRD? Banyak yang mengatakan bahwa hal ini dilakukan KMP sebagai “balasan” dari kekalahan calon presiden yang mereka usung dalam pemilihan presiden lalu. Gemuknya koalisi oposisi ini di parlemen memudahkan mereka meloloskan berbagai agenda yang telah direncanakan, salah satunya UU Pilkada. Oposisi itu sehat, asal sesuai dengan “dosis”. Harapan saya, oposisi yang berada di parlemen tetap menempatkan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan koalisi saja.

Kembali lagi pada soal tagar #ShameOnSBY. Kebanyakan orang tidak ada hentinya menghujat beliau, bahkan saya pun juga berkicau dengan mencantumkan tagar serupa di medsos. Wajar apabila beliau dihujat. Sebagai presiden, sebenarnya beliau memiliki kewenangan untuk mencegah UU Pilkada ini tidak disahkan, yaitu dengan cara menarik rancangan UU yang diajukan oleh Kementerian Dalam Negeri kepada DPR. Akan tetapi, saat itu beliau memilih untuk diam, dan tetap meloloskan RUU tersebut untuk kemudian diproses di DPR. Walaupun pada akhirnya beliau juga menyatakan “keprihatinan” atas disahkannya UU Pilkada dan dibarengi dengan mengajukan Perpu pilkada, akan tetapi semua sudah terlambat. Banyak orang beranggapan bahwa pada akhir masa jabatannya beliau justru mengkhianati reformasi dengan mencoba menghambat proses demokrasi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun di negeri ini.

Akan tetapi menurut saya, beliau bukan satu-satunya orang yang harus dikambing hitamkan. Kita semua harusnya juga berkaca pada diri kita masing-masing. Apakah selama ini kita telah menyumbangkan pemikiran, gagasan dan solusi untuk kemajuan demokrasi? Atau minimal apakah selama ini kita telah berperan aktif dalam proses demokrasi? Mencoblos bagi yang telah memenuhi syarat, misalnya. Sudahkan kita melakukan hal-hal tersebut? Atau jangan-jangan banyak dari kita yang hanya acuh terhadap demokrasi? Hanya bisa mengkritik, menggerutu menghujat dan menyalahkan kelompok tertentu saja?

Banyak dari kita yang menolak keras dilakukannya pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Banyak dari mereka bilang bahwa salah satu hak paling utama mereka sebagai warga negara dirampas. Akan tetapi apakah selama ini mereka menggunakan hak yang dimiliki dengan baik? Apakah selama ini mereka menyalurkan suaranya dengan benar dan sesuai dengan peraturan? Atau jangan-jangan, banyak diantara kelompok ini yang justru membuang percuma hak suara yang dimilikinya? Bukankah dengan memilih untuk menjadi golongan putih menjadikan kemungkinan penyalahgunaan suara akan semakin besar? Bukankah dengan menjadi golongan putih hanya akan membawa stagnasi pada proses demokrasi?

Akan lebih baik apabila hak yang kita miliki dimanfaatkan dengan baik. Begitu juga dengan kewajiban negara, harus memberikan pelayanan (dalam bentuk apapun itu, sesuai dengan kewajiban) terbaik kepada warga negaranya. Apabila masih terjadi kekurangan jangan hanya menghujat dan kemudian apatis. Justru di era demokrasi seperti ini kita harus berperan aktif dalam proses pelaksanaannya. Jangan hanya lantang bersuara keras dengan menuliskan tagar #ShameOnSBY saja. Ada baiknya anda juga lantang bersuara, bercermin dan bertanya pada diri anda sendiri sembari menggunakan tagar #ShameOnYou.

Friday, May 23, 2014

Rinduku Padamu: Bis Sekolah

Langsung Jaya
Nama bisnya keren, Rukun Sayur
Gaya Putra

Sore itu saya begitu takut. Diantarkan oleh Pakdhe, sesekali meringis menahan sakit pada pergelangan tangan kanan saya. Ketika salah satu dokter tulang di RS dr. Oen memeriksa tangan saya, ketakutan itu pun semakin menjadi-jadi.
“kenapa kok tangannya bengkak begini?” Tanya pak dokter yang badannya (sangat) gempal.
“tadi pagi saya jatuh pas ikut olahraga pak” jawab saya.

Beberapa saat kemudian, pak dokter dengan seksama memeriksa tangan saya. Sebelumnya saya juga telah dirontgen untuk mengetahui kondisi pasti dari pergelangan tangan saya tersebut.
“kalau dilihat dari hasil rontgen, ada dua pilihan untuk penanganan tangan anda. Yang pertama melalui operasi, atau bisa hanya menggunakan gips saja”.

Sontak muka saya langsung pucat. Kata operasi terdengar begitu menakutkan bagi saya. Kalau disuruh memilih tentu saja menggunakan gips akan menjadi pilihan utama saya. Tetapi, ketika itu pakdhe meminta pertimbangan dahulu kepada dokter. Setelah beberapa saat berkonsultasi, akhirnya diputuskan saya tidak perlu operasi, cukup menggunakan gips saja.

Plooong. Itulah perasaan saya ketika keputusan untuk operasi ditanggalkan, dokter menyarankan untuk menggunakan gips saja. Sesaat saya merasa bahwa perawatan telah berkahir sampai disitu saja, yang dibutuhkan hanya memakai gips saja. Dokter juga sudah menyiapkan peralatan untuk gips yang akan saya pakai. Sampai pada akhirnya pak dokter mengajak ngobrol dengan saya.
“kelas berapa sekarang?” sambil memegangi pergelangan tangan saya.
“kelas satu SMP pak” jawab saya.
“sekolahnya dimana?” sambil tetap memegangi tangan saya, seperti mencari sebuah titik. Entah apa itu.
“sekolah di…..”

Kreeeeek…. Belum selesai saya menjawab pertanyaan pak dokter, secara tiba-tiba dia menarik pergelangan tangan saya. Dia mengembalikan posisi pergelangan tangan saya seperti semula. Ternyata dialog singkat tadi hanyalah pengalihan saja. Tanpa saya sadari, dibagian yang saya kira sudah “aman”, justru menjadi bagian yang paling menyakitkan dalam proses penanganan cidera pada tangan saya.

Cerita diatas adalah awal mula saya menjadi seorang “bismania”. Bismania disini bukan bermaksud menjadi seorang yang maniac terhadap bis. Akan tetapi sejak saat memakai gips di pergelangan tangan, saya akhirnya menggunakan moda transportasi bis untuk berangkat ke sekolah ketika duduk di bangku SMP. Sebelumnya setiap hari saya menggunkan sepeda, akan tetapi karena harus mengenakan gips, maka bis menjadi pilihan yang lebih tepat. Sebenarnya ada pilihan selain menggunakan bis, yaitu angkot. Akan tetapi entah kenapa, saya tidak menyukainya. Terlalu kecil dan sangat sempit. Itulah dua alasan mengapa saya tidak terlalu tertarik dengan angkot.

Kebiasaan naik bis ini kemudian berlanjut hingga tiga tahun lamanya. Meskipun tidak setiap hari, akan tetapi intensitasnya masih sering. Padahal apabila dilogika, berangkat menggunakan bis ini sebenarnya tidak sepenuhnya pilihan yang bijak. Pertama, jarak antara pool bis dengan sekolah (pool bis ini popular disebut sebagai pemberhentian “mesjid”) cukup jauh apabila dibandingkan dengan pool angkot. Kedua, saya harus mengeluarkan dana lebih untuk transport. Berbeda apabila saya menggunakan sepeda, gratis. Bahkan seringkali saya malah mendapt “konsumsi” dari pakdhe saya, tempat dimana saya menitipkan sepeda apabila ke sekolah.

Akan tetapi ada hal lain yang tidak didapatkan apabila saya memilih menggunakan sepeda atau bahkan angkot. KEBERSAMAAN. Ya, itulah motivasi utama saya menjadi seorang bismania. Dikelas, saya memiliki banyak teman yang berasal dari “lereng gunung” yang tiap hari menggunakan bis untuk berangkat ke sekolah. Kebersamaan yang kami jalin dari menjadi seorang bismania ini hingga saat ini menjadi perekat hubungan pertemanan kami. Dari menjadi bismania ini pula banyak sekali kenangan lucu, konyol dan bahkan bodoh yang hingga saat ini selalu menjadi bahan perbincangan ketika kita berkumpul.

Gak mbayar (tidak membayar). Tidak terpuji memang. Akan tetapi, hal tersebut beberapa kali kami lakukan. Meskipun kala itu ongkos naik bis untuk pelajar “hanya” Rp. 500 saja, akan tetapi apabila salah satu diantara kami berhasil “lolos” dari kondektur, hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri. Biasanya, saking ramainya penumpang di dalam bis, sesekali sang kondektur “luput narik” ongkos dari kita. Ada satu tips untuk menghindar dari kondektur, caranya simple sekali. Ketika anda naik bis dari belakang, biasanya ketika bis penuh oleh pelajar, anda bisa bergerak perlahan ke bagian depan bis. Dengan melakukan itu, kemungkinan untuk bisa naik bis gratis bisa terwujud.

Memilih bis yang akan dinaiki. Ada beberapa kriteria bis yang menjadi pilihan kami. Pertama, bis tersebut harus cepat. Bis yang kami naiki tidak semuanya cepat, ada beberapa bis yang jalannya santai. Bagi kami, bis yang demikian tidaklah keren. Begenk dan Zere' merupakan dua bis yang kami beri predikat sebagai bis cepat. Kedua, bis tersebut harus bagus. Tidak semua bis yang kita naiki memiliki tampilan yang bagus. Beberapa bis yang kala itu bagian interiornya telah dirubah, atau bisa dikatakan dimodifikasi. Beberapa bis telah menggunakan interior yang dilengkapi dengan tv-vcd dan jok yang bagus. Walaupun seringkali music yang diputar dangdut atau campursari, paling tidak hal tersebut merupakan nilai tambah tersendiri dari bis tersebut.


Janjian naik bis yang sama. Ketika masih SMP, banyak dari kita yang belum menggunakan handphone. Jadi, kalau ingin berangkat bareng, sehari sebelumnya kita harus janjian terlebih dahulu.
I: “Sesuk numpak opo penake?”
F: “Rada awan wae, numpak Rukun nek ra Asereje”
I: “Yo, nek sesuk aku rung ana tinggalen wae rapopo”
Yah, kurang lebih seperti itulah percakapan yang kami lakukan sehari sebelumnya. Mungkin dulu hal ini terlihat biasa saja, akan tetapi apabila sekarang dipikir-pikir lagi, hal tersebut cukup unik.

Hafal plat nomer bis dan jadwal keberangkatannya. Mungkin ini sudah jamak terjadi pada penumpang regular bis. Begitu juga bagi kami. Sesekali kami menyebut bis tidak berdasarkan nama PO bis tersebut, akan tetapi berdasarkan plat nomernya. Kita menggunakan plat nomer ini menirukan istilah yang sering digunakan oleh sang kondektur. Biasanya sebuah bis disebut berdasarkan dua nomer belakang dari empat nomer yang berada di plat bis tersebut. Misalnya momer platnya AD 5679 F, maka bis tersebut biasa disebut dengan “79”. Pun dengan jam keberangkatannya. Kita sampai hafal apabila menggunakan bis tertentu kita telat sampai di sekolah. Bahkan tanpa melihat jam sekalipun.

Pool bus yang penuh dengan kenangan. Untuk urusan “nyegat bis” ketika pulang sekolah, kita memiliki dua opsi. Yang pertama daerahnya biasa disebut dengan “DPR”. Disebut demikian karena letaknya berdekatan dengan gedung DPRD. Jaraknya dari sekolah tidak terlalu jauh, mungkin 300-400 meter. Akan tetapi dari jarak tersebut kami memiliki banyak sekali kenangan yang sampai kapanpun akan menarik untuk kembali diulas. Mulai dari tindakan jahil “tragedi parkiran sepeda”, nyolong pepaya, makan tahu kupat, bersembunyi di parit ketika membolos dan masih banyak hal bodoh lainnya yang kami lakukan bersama.

Tempat kedua sering disebut dengan nama “gadean” (dari kata pegadaian). Dibandingkan dengan DPR, gadean ini letaknya lebih jauh lagi. Mungkin lebih dari 1km dari sekolah. Kami tidak sering menunggu bis disana. Biasanya hanya kesana apabila ingin membeli mie ayam. Dulu, di gadean terdapat warung mie ayam yang lumayan enak. Ditambah lagi harganya sangat murah. Kalau tidak salah satu porsi dihargai Rp, 1.500 saja. Pertimbangan lain mengapa kami menunggu bis di gadean mungkin karena ingin mencari suasana yang berbeda saja. Seingat saya begitu sih.

Semua kebiasaan tersebut praktis tidak kita lakukan lagi setelah duduk di bangku SMA. Beberapa dari kami berbeda sekolah. Beberapa lagi sudah mulai menggunakan motor, termasuk salah satunya saya. Sekarang setelah sekian lama, rasa-rasanya kok saya pengen nostalgia lagi. Kalau hanya sekedar naik bis saja saya masih sering melakukannya. Akan tetapi biasanya saya naik bis sendiri, tidak bareng dengan teman-teman. Tentunya tidak harus naik bis ke sekolah, tapi paling tidak kita bersama-sama naik bis.

Nah, dari keinginan ini tiba-tiba muncul sebuah ide menarik yang mungkin dalam waktu dekat bisa kita lakukan bersama. Sebentar lagi lebaran tiba, tentu saja banyak dari kami yang pulang ke rumah. Bagaimana kalau kita nanti “ngebis bareng”?. Kalau dulu jalur kita dari timur ke barat, kali ini kita ganti menjadi dari barat ke timur. Atau dengan arti lain dari Karanganyar ke TW. Jalur ini menjadi jalur paling memungkinkan bagi kita untuk bisa ngebis bareng.

Scenario awalnya, nanti saya akan naik dari Bejen, selanjutnya semakin ke atas kalian akan bergabung. Kita janjian naik bis yang sama, sekarang janjian sudah semakin mudah. Tinggal sms atau chatting saja bis apa yang saya naiki. Selanjutnya pemberhentian terakhir kita adalah di TW. Terserah nanti acara selanjutnya apa, yang penting kita bisa sesaat bernostalgia ngebis bareng. Kalau hanya jalan bareng menggunakan kendaraan pribadi, kita sudah sering melakukan. Tapi apabila menggunakan bis, mungkin ini bisa menjadi pengalaman baru bagi kita. Siapa tau nanti diantara kita ada yang gak bayar.

Persahabatan yang kuat tidak hanya didasari pada, kesamaan hobi, pertemanan yang lama atau bahkan berdasar pada materi semata. Terkadang hal-hal sepele bisa menjadi perekat kuat dalam suatu persahabatan. Bagi kami, inilah salah satu pengikat persahabatan kami. BIS…