Showing posts with label Timnas Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Timnas Indonesia. Show all posts

Wednesday, December 11, 2013

Indra Sjafrie; Tukang Pos Pembawa Optimisme Bagi Sepak Bola dalam Negeri

“Bagi kami tidak ada kata jenuh, kami semua disini adalah pejuang bangsa”. Begitulah jawaban dari coach Indra Sjafrie ketika saya melontarkan pertanyaan mengenai kiat-kiat apa saja yang dilakukan untuk mengusir rasa jenuh selama pemusatan latihan timnas U19 selama berada di kota Batu. Sebuah jawaban sarat makna dan penuh dengan optimisme.

Senin 9 Desember 2013, ditengah guyuran langit kota Jogja saya menjadi salah satu orang yang berkesempatan untuk dapat langsung berinteraksi dengan coach Indra melalui teleconference. Pelatih yang belakangan namanya melambung setelah memberikan gelar piala AFF U19 dan membawa Indonesia lolos pada putaran final AFC Cup U19 di Myanmar tahun depan.

Sore itu saya mengikuti acara yang diadakan oleh “teng-teng crit” (thenguk-thenguk crito/duduk-duduk sambil ngobrol). Sebuah komunitas diskusi di Jogja yang malam itu mengangkat tema sepak bola. Dalam acara tersebut, coach Indra menjadi salah satu narasumber. Selain coach Indra, ada pula narasumber dari BCS dan mas @zenrs. Memang percakapan yang dilakukan tidak terlalu lama, sekitar 20 menit. Maklum, ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tidak enak juga rasanya apabila mengganggu waktu istirahat beliau.

Selain pertanyaan dari saya tadi, malam itu coach Indra juga menjawab banyak pertanyaan dari mas @zenrs. Mulai dari pengalamannya selama menangani timnas, perkembangan terakhir kondisi tim di Batu, hingga pertanyaan mengenai sepak bola Indonesia secara umum. Setiap pertanyaan dijawab dengan lugas, jelas dan tanpa basa-basi. Berikut ini merupakan script hasil wawancara via teleconference dengan coach Indra.

Selama menjalani TC jangka panjang di Batu, salah satu hal yang ditakutkan menjadi penghambat adalah kejenuhan. Hal ini mengingat bahwa sebagian besar skuad yang ada merupakan pemain yang masih belia. Jadi apa saja kiat-kiat yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?

“Bagi kami tidak ada kata jenuh, kami semua disini adalah pejuang bangsa. Saya lebih suka menyebutnya refreshing. Jadi selama di Batu di akhir pekan saya memberikan satu hari libur bagi tim. Dalam setiap kesempatan dihari libur yang saya berikan, kami melakukan berapa kegiatan salah satunya berkunjung ke tempat rekreasi. Kebetulan di Malang terdapat banyak tempat rekreasi yang dapat kami kunjungi. Selain itu, kemarin saya juga sempat mengundang keluarga dan juga pacar dari pemain.”

Bagaimana perkembangan terakhir tim di Batu?

“Secara keseluruhan kondisi tim saat ini bagus. Infrastruktur dan seluruh kelengkapan pendukung di tempat TC juga bagus”.

Bagaimana dengan support dari PSSI?

“Bagus. PSSI sepenuhnya memberikan dukungan pada seluruh kegiatan kami di sini”.

Kabar terakhir, ada pemain yang anda coret. Apa yang dijadikan pertimbangan dalam pencoretan tersebut?

“Iya, benar. Kemarin saya mencoret dua pemain. Keduanya mengalami cidera saat mengikuti TC. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu bukti bahwa mereka tidak mampu mengikuti metode latihan yang diberikan oleh tim pelatih U19. Kalau mengikuti metode latihan saja tidak bisa, mereka itu bukan pemain bagus.”

Apakah ada rencana untuk melakukan seleksi lagi?

“Tidak. Saya tidak akan mengadakan seleksi lanjutan. Saya telah memilih pemain dari hasil kunjungan saya ke 43 kota. Saya akan mencoba memaksimalkan pemain yang saat ini ada. Dari 40 orang yang kemarin dipilih, nanti jumlahnya akan diciutkan menjadi 23 orang. Jumlah pemain yang sesuai dengan peraturan untuk mengikuti kompetisi AFC Cup U19 tahun depan.”

Jadi saat ini tidak ada lagi harapan bagi anak-anak yang kemarin belum sempat mengikuti latihan dikarenakan berbagai alasan. Mereka saat ini mungkin hanya bisa berdoa saja terkait harapannya membela timnas U19?

“Jangan hanya berdoa saja. Mereka harus tetap berusaha. Kesempatan mereka untuk dapat membela negara selalu terbuka. Tapi yang jelas saya tidak akan melakukan seleksi lanjutan dalam waktu dekat ini.”

Bagaimana dengan pemain diluar skuad AFF dan kualifikasi AFC, apakah bisa mengikuti irama latihan dengan pemain lama yang sudah lebih dulu tergabung?

“Secara umum pemain bisa beradaptasi. Rata-rata pemain yang ada saat ini sudah memiliki teknik individu yang bagus-bagus. Banyak pemain yang memiliki kemampuan menggiring bola untuk kemudian melewati satu-dua pemain. Itu kan juga salah satu dasar dari teknik individu yang telah lebih dulu mereka miliki. Kedepan kita akan mencoba untuk membangun taktik bermain mereka dalam tim. Saat ini di Batu kita terlebih dulu fokus pada pembentukan fisik pemain. Ibarat membangun rumah, kita saat ini sedang membangun fondasi rumahnya. Nanti rencanya pada bulan Januari kita akan pindah ke Jogja. Disana kita akan mulai membangun teknik bermain seluruh pemain U19.”

Dalam tim anda saat ini, apakah ada pemain yang sebelumnya sama sekali belum pernah mengenyam pelatihan di SSB?

“Ada satu pemain, dia adalah Yabes Roni Malafeini. Bisa dikatakan selama ini dia berlatih sepak bola secara otodidak”.

Terkait dengan sepak bola Indonesia secara umum, menurut anda apa yang harus dilakukan untuk menjadikan sepak bola kita bisa lebih maju?

“Saya kira yang harus dilakukan adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin pelatih yang berkualitas. Di Indonesia ini sebenarnya banyak sekali pemain yang bagus, akan tetapi tidak digarap (dilatih) dengan baik. Tidak perlu lagi ada acara tim dikirim ke luar negeri untuk berlatih, itu hanya akan menghambur-hamburkan uang negara saja. Apabila tetap melakukannya, kita hanya akan dibodoh-bodohin saja sama bangsa asing. Kita ini pada dasarnya mampu kok melakukannya. Untuk pelatihan kepada pelatih, kita bisa memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh FIFA dan AFC yang setiap tahun memberikan fasilitas kepelatihan ke Indonesia. Selain dari sisi pelatih, sisi pemain juga harus dilakukan pembenahan. Caranya dengan membentuk SSB yang berkualitas sebanyak mungkin. SSB akan berkualitas jika pelatihnya juga berkualitas. Terakhir adalah dukungan infrastruktur. Pemerintah sudah seharusnya membuat sebanyak mungkin lapangan sepak bola di negeri ini.”

Lantas bagaimana pendapat anda mengenai banyaknya pelatih dan pemain asing di liga Indonesia saat ini? Apakah anda tidak setuju dengan keberadaan mereka?

“Saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Saat ini keberadaan pelatih dan pemain asing di liga Indonesia sudah terlalu banyak, apalagi banyak dari pelatih dan pemain ini kualitasnya cuma ecek-ecek saja. Tidak usah saya sebutkan juga seharusnya kalian banyak yang tahu soal ini. Ditambah lagi, kebanyakan pemain asing yang merumput di Indonesia ini menempati posisi-posisi kunci di tim. Penyerang, pemain tengah dan pemain belakang. Kalau hal ini terus-terusan dilakukan pemain kita akan semakin sedikit mendapatkan kesempatan bermain. Bagaimana bisa maju kalau begini.”

Untuk target di AFC Cup U19 nanti bagaimana?

“Tidak perlu ditanyakan lagi itu. Saya sudah berkali-kali menyatakan dengan jelas bahwa target kita adalah lolos ke piala dunia U20. Kita ini pada dasarnya mampu kok. Mental gagal jangan terlalu terpatri di negara ini, kita harus tetap optimis.”

Timnas U23 yang berlaga di Seagames baru saja bertanding, apakah anda menyaksikan? Bagaimana pendapat anda mengenai permainannya?

“Iya, barusan saya nonton timnas Seagames dengan tim pelatih. Kalau soal permainan mungkin saya tidak perlu banyak berkomentar.”

Lebih menarik permainan timnas U19 ya Coach?

“Ya pasti lah, sudah jelas itu”. (Mendengar jawaban ini, teman-teman yang hadir langsung bersorak riuh dan memberikan tepuk tangan meriah untuk coach Indra).

Terakhir, apa pesan dari anda?

“Saya ingin berpesan untuk seluruh masyarakat Indonesia, kini saatnya bagi kita semua untuk bersatu. Jangan lagi ada pengelompokan suporter, suporter a, suporter b. Harusnya tidak ada lagi yang seperti itu. Hanya ada suporter yang mendukung satu Indonesia. Selain suporter juga saya berharap pengurus juga harus bersatu. Tidak usah lagi sampai terjadi kisruh dualisme seperti beberapa waktu lalu. Masak iya kalian semua tidak malu dengan anak-anak yang saya latih. Mereka masih muda saja sudah bisa bersatu dengan solid. Terakhir yang terpenting adalah saya senantiasa memohon atas doa masyarakat Indonesia agar pemusatan latihan yang sedang diadakan bisa berlangsung dengan baik dan lancer, serta nantinya target mencapai lolos ke piala dunia U20 bisa tercapai.”

Demikian merupakan petikan wawancara via teleconference yang dilakukan. Singkat memang, akan tetapi dalam waktu yang singkat tersebut membawa pesan yang sarat akan makna. Setiap jawaban dari pertanyaan yang diberikan kepada coach Indra selalu dijawab dengan lugas dan penuh optimisme. Sebuah hal yang sangat jarang kita temui dalam diri sosok pelatih lokal dewasa ini.

Dengan optimisme yang tinggi itu pula coach Indra secara tidak langsung juga masih menjalankan pekerjaannya yang dulu sempat dilakoni, menjadi “tukang pos”. Pasca pensiun dari sepak bola, beliau sempat menjadi pegawai dari kantor pos, hingga jabatan terakhir yang sempat diemban adalah kepala kantor pos di salah satu daerah di provinsi Sumatra Barat. Belakangan pekerjaannya ditinggalkan karena dia lebih memilih untuk konsentrasi blusukan mencari pemain untuk timnas U19.

Seperti yang dikatakan oleh mas @zenrs, apabila dulu tugas dari coach Indra adalah seorang tukang pos yang mengantarkan surat, tetapi saat ini hal tersebut telah berubah. Saat ini tugas beliau adalah sebagai tukang pos yang mengantarkan optimisme bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebuah optimisme akan prestasi tinggi untuk sepak bola. Jika sebelumnya keinginan untuk tampil di piala dunia merupakan sebuah mimpi yang sangat tinggi untuk dicapai, akan tetapi dengan optimisme yang dibawa oleh coach Indra mimpi tersebut menjadi terasa realistis untuk diraih.

Terima kasih kepada coach Indra. Jangan lelah untuk menyebarkan optimisme kepada seluruh masyarakat Indonesia. Semoga perjuangan pajang anda berbuah kisah yang happy ending.

Saturday, November 24, 2012

Timnas Ditengah Keterbatasan

Beban super berat disandang Tim Nasional Indonesia di piala Federasi sepak bola ASEAN (AFF) 2012 yang akan segera bergulir hingga 22 Desember. Aral menghadang dari segala sisi, bahkan dari negeri sendiri. Kesebelasan merah putih itu dibangun dalam situasi konflik, yaitu konflik tiada henti antara PSSI pimpinan Djohar Arifin dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Konflik itu telah melahirkan PSSI tandingan dibawah komando La Nyalla Mataliti dan timnas sempalan dengan pelatih Alfred Riedl. 

Dampaknya pun kasat mata terlihat. PSSI tak leluasa merancang skuad garuda untuk membentuk tim yang solid dan bermental tangguh. Pelatih Nil Maizar dan (Manajer) Habil Marati dipaksa pontang-panting.  Keinginan PSSI memanggil pemain Indonesia Super League (ISL) untuk digabungkan dengan materi dari pemain Indonesia Premier League (IPL) terus membentur tembok egoisme kelompok. KPSI sebagai pengendali ISL selalu punya dalih berlebih untuk menghalangi niat itu. 

Dalam nota kesepahaman yang diteken PSSI dan KPSI di kantor konfederasi sepak bola Asia (AFC) 7 Juni, tegas disebutkan “Timnas dibawah yuridiksi PSSI”.  Namun KPSI memilih menafsirkan lain, semangat memaksakan kehendak tetap menggelegar. Mereka hanya melepas pemain ISL ke Timnas jika Riedl menjadi pelatih kepala. Sebuah sikap mengada-ada. Begitulah KPSI, didepan AFC patuh, tetapi dibelakang membangkang. Padahal Timnas semestinya dibangun dan berlaga di level internasional hanya punya satu misi, yakni mengangkat harkat dan martabat bangsa. 

Semangat timnas begitu mulia, yakni merajut beragam kepentingan demi kejayaan bangsa. Namun, di negeri ini Timnas justru menjadi lahan bagi sebagian orang untuk memamerkan kejemawaan. Timnas diperlukan layaknya ajang perebutan kekuasaan politik yang sarat intrik. Timnas malah menebalkan sekat antar sesama anak bangsa. Sekat yang menjungkir balikkan akal sehat. Simak saja ketika Bambang Pamungkas bergabung dengan Timnas, tidak sedikit yang bersuara sumbang. Bambang yang jelas-jelas ingin mengharumkan nama negara justru dicap pengkhianat. 

Celakanya lagi, pemerintah ikut larut dalam intrik. Menpora, Andi Mallarangeng, sempat ogah mengucurkan bantuan dana karena menurutnya Timnas tidak diisi pemain-pemain terbaik. Bukankah PSSI sudah membuka peluang bagi pemain ISL tetapi dijegal KPSI? Bukankah dengan sikap itu berarti Menpora mengkerdilkan punggawa Timnas yang ada? Memang, Menpora akhirnya membantu Timnas Rp. 800 juta, tetapi itu amat terlambat. Bisa jadi pula ia malu, karena sekelompok supporter lebih dulu menyumbang Rp. 56 juta hasil penggalangan dana untuk Timnas. 

Boleh saja Menpora tak peduli tak masalah jika ada orang Indonesia yang berharap pasukan Nil Maizar hancur lebur di piala AFF, sehingga mereka punya amunisi baru untuk menyerang PSSI. Namun percayalah, sebagian besar rakyat tetap mencintai dan mendukung Timnas. Dalam sepak bola berlaku aksioma, tidak ada yang tidak mungkin. Timnas boleh dipandang nyinyir, tetapi bukan mustahil merekalah yang akan mengakhiri paceklik prestasi sepak bola nasional. Itulah yang kita harapkan di perhelatan piala AFF.  

Artikel diatas merupakan kutipan prolog dari tayangan ulasan “Bedah Editorial Media Indonesia” di Metro TV yang kala itu mengangkat topik “Timnas Ditengah Keterbatasan”. Sedih memang, ketika pecinta bola di Indonesia ini dipermainkan oleh secuil oknum yang menyeret sepak bola nasional ke dalam jurang kelam bernama politik. Seakan-akan otak, kaki dan tangan mereka telah terpatri untuk terus menerus mengusik sepak bola negeri ini. Mereka tidak akan pernah puas, walaupun sebelumnya mereka telah menghancurkan sepak bola nasional dengan berbagai skandal memalukan. 

Jujur, saya tidak fanatik dengan PSSI dibawah kepemimpinan Djohar. Apalagi setelah dia mengeluarkan kebijakan mengenai syarat klub yang tergabung di liga PSSI musim lalu. Jelas hal tersebut menjadikan banyak pihak langsung antipati terhadap kepemimpinannya. Kemudian munculnya La Nyalla. Komisi Penyelamat Sepak Bola Nasional, terdengar begitu manis memang bagi pecinta sepak bola nasional yang menginginkan perbaikan. Sempat memberikan angin segar, akan tetapi di akhir, justru kelompok ini yang Nampak nyata sebagai Komisi Perusak Sepak Bola Nasional. 

Dalam situasi ini, posisi saya netral. Jelas bahwa kedua kelompok baik PSSI maupun KPSI sama-sama (pernah) melakukan kesalahan. Keduanya juga sama-sama memiliki sisi bejat dan kelam.
Akan tetapi untuk Timnas, legitimasi yang dimiliki PSSI adalah mutlak. Tawaran kerja sama dengan KPSI juga telah dilayangkan. Tapi faktanya jelas, La Nyala lah yang menjadi begundal sesungguhnya. Dari awal saya 100% mendukung Timnas Indonesia. Bukan soal PSSI atau pun KPSI. Akan tetapi sebuah tim yang legal, sah, resmi dan yang mendapat pengakuan dari FIFA yang akhirnya pantas disebut Tim Nasional Indonesia. 

Hormat saya sepenuhnya saya tujukan kepada seluruh punggawa Timnas saat ini, terutama Bambang Pamungkas dan kepala pelatih Nil Maizar. Dengan tidak mengesampingkan peran punggawa lainnya, akan tetapi dua sosok ini merupakan tokoh sentral dalam skuad Timnas saat ini. Bepe dengan keberaniaannya bergabung dengan Timnas dibawah bayang-banyang sanksi KPSI (yang nyatanya tidak terbutkti) dan Nil Maizar yang dengan keteguhannya membangun Timnas dengan komposisi “seadanya”. Sungguh sebuah tindakan dan tekad yang harus kita apresiasi.

Pada akhirnya, lewat tulisan ini lagi-lagi saya hanya bisa melayangkan doa. Doa yang benar-benar tulus dari dalam hati, semoga seluruh pemain dalam skuad garuda nanti dapat bermain maksimal. Tolong sejenak lupakan berbagai kemelut di persepak bolaan negeri ini. Cobalah fokus bertanding. Kalian mewakili kami, 240 juta rakyat Indonesia yang saya yakin sebagian besar masih memiliki cinta dan harapan akan torehan prestasi dari kalian. Bertarunglah sebagai wakil kami, bukan lagi oknum di PSSI, politisi apalagi KPSI. 

Selamat bertanding skuad garuda, doa dan harapan terbaik akan selalu kami tujukan untuk kalian disana.

Monday, September 10, 2012

Momen Tak Terlupakan Ketika Mendukung Skuad Garuda (Bagian I)


 Membicarakan sepak bola nasional memang tidak pernah ada habisnya. Apalagi dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, kancah sepak bola nasional begitu gencarnya dibicarakan. Sayang sekali bukan prestasi membanggakan yang menjadi topik, akan tetapi malah pencapaian lusuh, rusuh pertandingan dalam kompetisi dan kisruh organisasi yang berkepanjangan. Sebagai pecinta sepak bola nasional, saya dan anda semua pastinya merasakan kesedihan yang mendalam. Disaat negara-negara tetangga kita semakin maju membangun persepakbolaannya, negara kita malah masih jalan ditempat. Para pengurusnya saling mengedepankan ego, memfasilitasi kepentingan politik beberapa pihak dan otomatis mengorbankan keberadaan pemain yang hanya bisa tunduk terhadap berbagai peraturan omong kosong yang mereka buat. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai buruknya pencapaian sepak bola nasional kita. Sudah terlalu sering saya dan anda semua disuguhi dengan tulisan-tulisan yang isinya semakin membuat kita sedih. Bahkan bukan tidak mungkin dengan semakin banyaknya tulisan tersebut akan membuat kita pada suatu titik yang menjadikan kita apatis dan acuh pada persepakbolaan nasional. Nah, untuk itu melalui tulisan ini saya ingin berbagi “kebahagian” berkaitan dengan pengalaman saya ketika menyaksikan langsung pertandingan pembuka AFF Cup 2010.

Pada bulan Desember 2010 lalu, negera-negara di kawasan Asia Tenggara berkompetisi dalam turnamen yang rutin diselenggarakan dua tahunan, AFF Suzuki Cup. Sepanjang sejarahnya, Indonesia belum sekalipun mampu menjadi juara dalam turnamen regional tersebut. Pencapaian terbaik “hanya” empat kali masuk ke partai final, dan keempatnya pula berakhir dengan gelar runner-up. Pada tahun tersebut, Indonesia mendapat giliran sebagai tuan rumah penyisihan grup, bersama dengan Vietnam. Indonesia tergabung dalam grup A yang terdiri dari tim sepak bola Thailand, Laos, dan Malaysia. Laga grup A diadakan di dua kota di Indonesia, untuk di Jakarta diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan di Palembang diadakan di Stadion Jakabaring. Hasil pengundian grup yang diadakan kira-kira dua bulan sebelumnya membuat saya jauh-jauh hari telah membulatkan tekad untuk menonton pertandingan langsung timnas yang diadakan di Jakarta. Yang menjadi pilihan utama saya adalah pertandingan pembuka yang mempertemukan Indonesia melawan Malaysia. Pertandingan tersebut rasanya memiliki magnet yang begitu besar bagi saya, selain karena rivalitas tradisional kedua negara, gengsi dalam pertandingan tersebut menurut saya tergolong sangat tinggi.

Seiring pengundian grup, rilis resmi jadwal pertandingan juga diumumkan. Tanggal 1 Desember 2010 merupakan jadwal pertandingan antara Indonesia melawan Malaysia. Otomatis, segala sesuatu saya persiapkan. Pada tanggal tersebut semua kegiatan saya kesampingkan, “bagaimanapun caranya saya harus bisa menyaksikan langsung pertandingan itu di SUGBK. Titik”. Begitulah kira-kira kalimat yang terpatri di pikiran saya saat mengetahui jadwal resmi pertandingan tersebut. Rencana pertama saya adalah mempersiapkan akomodasi. Pertama saya mencoba untuk mengecek harga tiket kereta tujuan Jogja-Jakarta. Saya menghindari menggunakan kereta kelas ekonomi, jangan ditanya mengapa alasannya, seharusnya anda semua tahu mengapa saya tidak memilihnya. Keunggulan kereta kelas ekonomi (saat itu) hanya dari segi harga yang terjangkau, lainnya? Menurut saya tidak ada. Setelah saya mengecek harga tiket kereta, untuk kelas bisnis maupun eksekutif harganya cukup mahal. Maklum, saya seorang mahasiswa, hehehe.

Setelah itu, iseng-iseng saya mengecek harga tiket pesawat. Sebelumnya, saya mendapatkan informasi dari teman, bahwa maskapai penerbangan Mandala saat itu sedang promo gila-gilaan. Dan benar saja, saya mendapati harga tiket pesawat tujuan Jogja-Jakarta untuk tanggal 31 November 2010 “hanya” Rp. 80.000 !!  Tanpa berpikir panjang, langsung saya booking saja tiket tersebut, selanjutnya saya bayar lewat ATM. Dari sini saya mendapat firasat bahwa rencana saya ini akan berjalan lancar. Semakin semangat pula saya mempersiapkan perjalanan saya menyaksikan langsung pertandingan timnas Garuda. Mendekati hari-H pertandingan, liputan di media mengenai ajang AFF Suzuki Cup semakin gencar, termasuk juga melalui social media Facebook. Untuk mendapatkan berita ter-update mengenai AFF, saya rutin membukanya dalam akun Facebook Suzuki Indonesia. Sampai pada ketika suatu hari akun tersebut mengadakan sebuah kuis dengan hadiah utama adalah dua tiket VIP pertandingan pembuka AFF Suzuki Cup 2010 di SUGBK. Kala itu, untuk mendapatkan hadiah tiket tersebut diharuskan untuk menjawab pertanyaan dari akun Suzuki Indonesia. Dan untuk jawaban terbaik akan menjadi pemenangnya.

Pertanyaan dari Suzuki waktu itu adalah “Siapakah pemain tim nasional Indonesia saat ini yang menjadi Idola anda? Dan mengapa anda mengidolai pemain tersebut?”. Melihat pertanyaan tersebut, hanya ada satu sosok yang menurut saya paling tepat dan pantas untuk dapat dijadikan jawaban dari pertanyaan tersebut, dialah Bambang “Bepe” Pamungkas. Mengapa saya mengidolai Bambang Pamungkas? Rasanya terlalu banyak alasan mengapa saya dan mungkin anda semua mengidolai pemain yang satu ini. Kemampuannya sebagai striker tidak perlu dipertanyakan lagi, lihat saja jumlah gol di klub, baik di Persija maupun klub Malaysia Selangor FC yang dibelanya pada 2005 silam. Bukan hanya di klub, di tim nasional pun dia memegang caps terbanyak sekaligus menjadi striker tersubur dengan gol dari kaki maupun sundulan mautnya. Sejauh ini, dialah pemain lokal yang memiliki kharisma yang luar biasa. Kharismanya ini dia tunjukkan dengan gaya kepemimpinannya sebagai kapten tim di atas lapangan. Ketika sebagian besar pemain lokal begitu reaksioner dengan keputusan wasit, dia lah satu-satunya pemain yang sejauh ini belum saya lihat secara langsung melakukan protes berlebihan terhadap korps pengadil lapangan. Jangankan memukul wasit, mendorong wasitpun sejauh pengetahuan saya tidak pernah. Apabila protes, dia akan melakukan dengan sewajarnya.

Diluar lapangan, sosok Bambang tetaplah santun. Dari segi ekonomi pemain sepak bola lokal, dia merupakan salah satu pemain dengan kontrak tertinggi di Indonesia. Walaupun demikian, dia tidak pernah terlihat glamor seperti kebanyakan pemain lokal dengan kontrak tinggi saat ini. Dia malah aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang sering dia sosialisasikan melalui akun twitternya @bepe20, maupun melalui situs pribadinya bambangpamungkas20.com secara rutin. Satu hal yang menurut saya unik, dan semakin membuat saya mengidolainya, adalah kebiasaannya menulis. Hal ini menjadi semacam anomali, sangat jarang seorang pemain sepak bola, apalagi sepak  bola lokal yang gemar mempublikasikan tulisannya, dan tulisannya pun menurut saya “berisi”. Bahkan beberapa waktu lalu, kumpulan tulisannya di situs pribadi diangkat menjadi sebuah buku dengan judul “Ketika Jemariku Menari”. Hebatnya lagi, seluruh hasil penjualan buku tersebut disumbangkan kepada Syair Untuk Sahabat Foundation, sebuah lembaga yang memberikan bantuan kepada penderita kanker dan HIV/AIDS. Semakin salut saja saya dengan seorang Bambang Pamungkas. Kurang lebih seperti itulah jawaban saya atas pertanyaan yang menjadi kuis berhadiah dua tiket pertandingan pembuka AFF Suzuki Cup 2010.

Setelah tiba pada saat pengumuman, lebih tepatnya pada malam harinya, saya mencoba untuk mengecek akun facebook saya. Terlihat ada satu notifikasi, dan notifikasi itu adalah dari Suzuki Indonesia. Rasanya keberuntungan masih betah untuk berdampingan dengan saya. Dari ratusan orang yang mengikuti kuis tersebut, saya terpilih menjadi salah satu pemenangnya. Dari sini, saya semakin membulatkan tekad untuk menonton pertandingan tersebut. Kebetulan bapak saya juga seorang yang gila bola. Masa kecil beliau dulu adalah di Kediri. Beliau sering bercerita bahwa semasa kecil dia sering menyaksikan pertandingan ke kota, walau harus mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer. Dan gen “gila bola” ini nampaknya menurun kepada anaknya. Saya pun memberitahukan rencana untuk menonton langsung pertandingan timnas di SUGBK, dengan harapan akan diberikan uang saku tambahan. Hehehehe… Ternyata apa yang saya dapat justru melebihi ekspektasi. Bapak saya juga ikut-ikutan untuk turut serta “ngluruk” ke Jakarta menyaksikan pertandingannya secara langsung. Rencananya kita akan bertemu di SUGBK pada saat hari H pertandingan. Kebetulan, beliau ada acara dinas ke Jakarta H+1 pertandingan.

Masalah transport sudah beres, dan sekarang adalah merencanakan bagaimana saya nanti menginap selama di Jakarta. Nah, kebetulan teman satu kosan saya di Jogja yang berasal dari Tangerang sedang pulang kerumahnya. Jadi H-1 saya meminta bantuannya untuk dijemput sekaligus menginap dirumahnya. Lagi-lagi, saya diberikan jalan yang lapang, teman saya bersedia membantu, bahkan akan ikut bersama saya menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Memang sepertinya saya benar-benar sedang hoki kala itu, lancar banget semua rencana saya. Akhirnya tiba pada H-1 pertandingan. Saya berangkat menuju Jakarta dengan menggunakan pesawat yang harga tiketnya hanya Rp. 80.000 tadi. Tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta, saya dijemput oleh teman saya yang berdomisili di Tangerang. Saya menginap semalam dirumahnya. Pagi harinya saya berangkat menuju SUGBK dari Tangerang menggunakan dua motor. Satu motor untuk saya dan teman saya, dan satu motor lainnya untuk teman dari teman saya. Bertiga kami berangkat sekitar pukul 10 pagi dari Tangerang. Ini pengalaman pertama saya menelusuri Jakarta dengan menggunakan motor. Saya benar-benar merasa salut dengan orang di kawasan ini. Setiap hari harus berhadapan dengan kemacetan yang menurut saya emang udah benar-benar akut, parah dan gila.

Setelah mengambil hadiah tiket, selanjutnya kami pergi ke SUGBK untuk membeli tiket bagi dua teman saya. Kala itu antrian pembelian tiket tidak terlalu ramai, maklum ini pertandingan pembuka dan waktu itu juga hari kerja. Seluruh tiket sudah ditangan, kick off pertandingan masih sekitar enam jam. Sambil menunggu kick-off, teman saya mengajak untuk ke daerah Blok M, dia mendapat titipan barang dari orang tuanya. Kurang lebih kami menghabiskan waktu dua jam disana. Empat jam tersisa kami gunakan untuk menunggu ditempat lain. Kali ini tujuannya adalah daerah Setia Budi, dimana didaerah tersebut ada serang kawan lama kami yang dulu pernah tinggal satu kosan kala masih kuliah di Jogja. Dan kebetulan lagi, teman saya juga berencana akan menyaksikan pertandingan timnas. Pas deh, jadinya kita berangkat bersama-sama menuju SUGBK setelah numpang istirahat dikosannya selama lebih dari dua jam. Sesampainya di kawasan SUGBK, keadaan sudah mulai ramai. Banyak pedagang yang menjual berbagai atribut serba merah ala timnas. Banyak juga suporter yang mulai berdatangan dengan berbagai aksesorisnya. Semua orang terlihat bagitu optimis dengan pertandingan tersebut. Mayoritas sangat yakin bahwa timnas Indonesia akan mampu mengalahkan Malaysia.

Kala itu, saya dan teman-teman menunggu kick off di bagian luar dari SUGBK. Kami berniat untuk menunggu bapak saya yang berangkat dari Surabaya untuk nantinya bersama-sama masuk ke dalam stadion. Akan tetapi hingga 30 menit menjelang kick off, bapak saya belum juga sampai. Beliau masih terjebak kemacetan dalam perjalanannya dari kawasan Cengkareng menuju Senayan. Akhirnya saya persilahkan teman saya untuk lebih dulu masuk ke dalam stadion. Saya tetap berada diluar untuk menunggu bapak saya. Sampai akhirnya, tepat 10 menit sebelum kick off, bapak saya telah tiba di SUGBK. Kami berdua harus lari untuk masuk kedalam Stadion. Sempat juga kami dan banyak calon penonton lainnya diharuskan untuk melompat pagar yang melintasi lingkar luar SUGBK. Sebab kala itu pagar utamanya ditutup oleh pihak keamanan, saya sendiri kurang tahu alasannya apa. Padahal, pada hari itu penonton yang datang untuk menyaksikan pertandingan terhitung cukup banyak. Sebenarnya apabila tidak berlaripun, kami masih bisa menyaksikan pertandingan secara utuh, kalaupun tertinggal mungkin juga hanya beberapa menit saja. Akan tetapi, buat saya dan bapak saya, ada satu momen penting yang tidak boleh kami tinggalkan, bagi saya pribadi bahkan diharamkan apabila sampai melewatkan momen tersebut. Momen yang saya maksud adalah ketika sebelum dilangsungkannya pertandingan kedua tim terlebih dahulu menyanyikan lagu kebangsaan. Menyanyi lagu kebangsaan, Indonesia Raya, kala menyaksikan langsung pertandingan timnas Indonesia adalah wajib untuk diikuti. Sulit untuk menggambarkan bagaimana pentingnya momen tersebut bagi saya. Yang pasti saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan, sejenak diri ini merasa menjadi “Indonesia seutuhnya”, semangat dalam diri begitu membara, menyala bagai api yang tak akan padam.

Akhirnya, saya kembali lagi masuk ke dalam SUGBK setelah sebelumnya pada tahun 2007 sempat menyaksikan langsung pertandingan timnas. Beruntung ketika kami telah masuk ke dalam stadion, kami belum tertinggal momen tersebut. Sebagian pemain dari kedua tim baru saja melakukan pemanasan, dan kemudian mereka kembali ke ruang ganti. Sempat juga terdengar oleh saya, banyak sekali suporter yang melakukan provokasi terhadap pemain Malaysia. Wajar memang, kala itu hubungan kedua negara sedang memanas. Selang beberapa menit kemudian, diiringi dengan FIFA fair play anthem seluruh pemain dan official dari kedua tim memasuki lapangan. Sontak seisi stadion yang kala itu berisi lebih dari 62.000 penonton menjadi riuh. Firman Utina yang menjadi kapten, memimpin barisan skuad garuda dalam pertandingan tersebut. Tim Indonesia yang kala itu dibesut oleh Alfred Riedl tampil dengan beberapa muka baru di skuad inti yang diturunkan. Zulkifly Sukur, M. Nasuha, Ahmad Bustomi, Octavianus Maniani, Irfan Bachdim dan pemain yang baru saja mendapatkan kewarganegaraan Indonesia, Cristian Gonzales merupakan debutan yang mengisi skuad utama timnas Indonesia. Mereka bahu-membahu dengan muka lama timnas macam Markus, Maman, Hamka maupun M. Ridwan. Sedangkan di bangku cadangan ada Ferry, Arif Suyono, Eka Ramdani, Tony Sucipto Bambang Pamungkas dan juga terdapat dua muka baru yaitu Benny Wahyudi dan Yongki Ariwibowo.

Tim Malaysia tampil dengan kostum mereka, warna kuning-hitam. Sedangkan Indonesia tampil dengan kostum kebanggaan berwarna merah-putih, disertai lambang garuda pancasila di bagian dada. Penonton diminta untuk berdiri ketika lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Malaysia mendapat giliran pertama. “Maling… Maling!! Maling… Maling!!”. Berkali-kali kata tersebut diucapkan oleh puluhan ribu suporter timanas Indonesia. Mungkin anda akan mengatakan bahwa ini merupakan salah satu tindakan yang belum dewasa dari suporter kita. Tapi akan berbeda ceritanya apabila anda yang berada pada posisi suporter di dalam stadion. Akan sulit untuk menghindar dari atmosper yang kala itu sangat kuat. Anda akan dengan mudah terbawa arus ketika berada disana. Jujur, ketika lagu kebangsaan Malaysia dikumandangkan suasananya benar-benar ricuh, sama sekali tidak khidmat. Kemudian, giliran Indonesia Raya yang dikumandangkan. Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, momen ini merupakan momen yang menurut saya benar-benar memiliki daya tarik magis yang sangat kuat. Sontak bulu kuduk saya berdiri ketika seisi stadion secara lantang menyanyikan lagu ini. Bapak saya yang kesehariannya kalem, terlihat begitu meledak-ledak ketika menyanyikan lagu tersebut.

Pertandingan babak pertama dimulai. Diawal laga, terlihat kedua tim masih hati-hati. Keduanya memilih untuk membaca permainan lawan terlebih dahulu. Di menit ke-18 Malaysia terlebih dahulu mengambil inisiatif serangan. Melalui kaki Norshahrul, gawang Markus berhasil dibobol. Seisi stadion sempat terdiam, akan tetapi setelah itu seluruh suporter kembali melantunkan yel-yel dukungan tanpa henti. Tertinggal satu gol membuat Indonesia semakin gencar melancarkan serangan. Keunggulan Malaysia pun tidak bertahan lama, selang empat menit kemudian, berawal dari penetrasi dari M. Nasuha dari sisi kanan pertahanan Malaysia, Asraruddin salah mengantisipasi crossing dan berakibat pada terciptanya gol bunuh diri. Keadaan kembali imbang 1-1. Gempuran serangan Indonesia masih berlanjut dan kali ini semakin intens. Di menit ke-33 melalui ketenangan dan ketepatan tendangannya, Cristian “el-loco” Gonzales berhasil mencetak gol di partai debutnya. Keadaan berbalik dengan keunggulan Indonesia 2-1. Hasil ini bertahan hingga turun minum.

Babak kedua dimulai, Malaysia yang kala itu diisi dengan mayoritas pemain muda sempat memberikan perlawanan yang sengit. Akan tetapi usaha tersebut sia-sia, di menit ke-52 melalui akselerasinya M.Ridwan kembali menambah gol keunggulan bagi Indonesia. Indonesia 3-1 Malaysia. Dengan keunggulan tersebut, Alfred Riedl mulai melakukan pergantian, menyimpan tenaga pemain inti untuk pertandingan selanjutnya. Arif “keceng” Suyono kemudian dimasukkan. Tidak butuh waktu lama untuknya membuktikan kualitas yang ia miliki. Berkat penempatan posisi yang bagus, dia mampu mencetak gol ke empat Indonesia. Di menit-menit akhir pertandingan “selebriti sepak bola” Indonesia, Irfan Bachdim akhirnya melengkapi kemenangan 5-1 Indonesia atas malaysia setelah berhasil memanfaatkan umpan silang dari Octo Maniani. Tanpa saya sadari, suara saya serak, sepanjang pertadingan tidak hentinya saya berteriak kegirangan. Demikian pula dengan bapak saya, sepanjang pertandingan beliau terlihat begitu urakan, walaupun dari pagi belum sempat beristirahat. Ketika di stadion pun beliau masih mengenakan celana dinas, hanya kemeja saja yang sempat ganti.

Kami tidak sempat berlama-lama di dalam stadion, Bapak saya mengajak bergegas meninggalkan SUGBK untuk menghindari kemacetan. Saya pun tidak sempat berpamitan dengan teman saya, karena didalam stadion kami berada pada tribun yang terpisah. Meskipun badan terasa begitu lelah dan suara yang nyaris habis, tetapi malam itu saya bisa tidur dengan sangat nyaman. Paginya saya kembali pulang ke Jogja, kali ini saya naik kereta api. Keberuntungan saya masih berlanjut disini, karena Bapak saya berbaik hati membelikan tiket kereta eksekutif eksekutif. Di sepanjang perjalanan banyak penumpang lain yang bertanya kepada saya mengenai pertandingan tersebut. Maklum, kala itu saya memakai kaos timnas yang semalam sebelumnya saya beli di pelataran SUGBK. Dengan sumringah saya pun menceritakan pengalaman luar biasa tersebut. Tidak berlebihan apabila saya menyebut momen ini merupakan salah satu momen tak terlupakan saat mendukung skuad garuda.