Friday, March 20, 2015

ROMA

Tak ada judul yang lebih menarik, cukup itu saja, Roma. Dari satu kata itu mengandung banyak sekali makna. Mulai dari nama sebuah kota, biduan nada yang mendapat predikat raja, hingga sebuah klub sepak bola di Italia. Dalam tulisan ini, saya memilih arti/maksud ketiga, klub sepak bola. Roma.

Sungguh malang sekali nasibnya. Sudah sekitar dua bulan lamanya "derita" silih berganti menghampiri. Tak ada jeda, tak ada rehat, bagai segar udara yang tak hentinya kita serap. Istilah sudah jatuh tertimpa tangga masih belum cukup menjadi gambaran keadaannya. Saya kira lebih dari itu. Buruk.

Apa penyebab "derita" itu terjadi tidaklah penting. Saya yakin, pasti kita semua memahami penyebabnya. Saya sebut kita, karena saya yakini anda diluar sana banyak yang peduli padanya, Roma. Kita merasakan hal yang sama, kecewa. Akan tetapi yang paling penting dari keadaan ini adalah bagaimana kita menanggulanginya.

Memaki dan mencela tanpa henti tidak akan pernah menjadi sebuah solusi. Keduanya hanya akan menjadi sebuah racun mematikan yang akan menggerogoti sisa-sisa semangat dan tenaga yang mencoba kembali dibangun oleh staff dan pemain klub. Lebih penting lagi adalah bagi kita yang merasa peduli padanya, Romanisti.

Saat ini satu hal terpenting yang kita butuhkan adalah percaya. Percaya pada pemain, percaya pada pelatih, percaya pada manajemen klub. Percaya bahwa mereka senantiasa bermain dan bekerja untuk tidak mengecewakan kita, pendukungnya. Lihat saja kita sebagai pendukung melihat mereka bertubi-tubi gagal, kecewa bukan?.

Sekarang coba anda bayangkan bagaimana yang dirasakan pemain. Pastinya mereka lebih menderita dari kita. Kepala mereka tak dapat tegak, bahu mereka semakin berat, dan kaki mereka semakin lambat untuk berlari. Semua hanya karena mereka gagal memberikan rasa bahagia bagi kita.

Sangat tidak adil kalo saat ini kita mencela dan menghujat mereka. Mereka telah berusaha sekuat tenaga. Mereka juga telah mencoba berbagai cara untuk membuat kita bahagia. Kita semua tau itu, kita semua melihatnya.

Tak perlu lagi panjang berucap. Saat ini hanya ada satu hal yang dibutuhkan Roma, kita percaya pada mereka.

Thursday, October 23, 2014

#ShameOnYouSBY atau #ShameOnYou, Mana yang Lebih Tepat?


Sumber: http://www.lpmdinamika.co
Sudah lama saya tidak menulis diblog. Akhir-akhir ini, semua tulisan saya hanya tertuang pada tugas akhir saja, yang pada akhirnya berakhir juga (banyak kali kata akhir-nya yak). Kali ini saya tertarik untuk menanggapi tentang fenomena media sosial yang beberapa waktu lalu happening. Tagar #ShameOnYouSBY begitu ramai di media twiter. Selama dua hari tagar tersebut mendapatkan predikat sebagai Trending Topic World Wide (TTWW).

Pengguna twitter di negeri ini tentu saja sudah tidak asing lagi dengan predikat TTWW. Maklum saja, Indonesia, khususnya Jakarta merupakan salah satu “importir” twit terbesar sejagat. Paling sering predikat TTWW didapatkan pengguna twitter negeri ini kalo sedang berlangsung ajang pencarian bakat, tentunya anda akan tahu acara apa yang saya maksud. Tapi, kali ini predikat TTWW yang didapatkan sedikit berbeda. Berbeda karena yang tertera dalam tagar bukan merupakan nama salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat, melainkan merupakan inisial dari pemimpin negara kita.

Menjadi TTWW selama lebih dari 24 jam (setahu saya) bukanlah hal yang lumrah di twitter. Apalagi TTWW tersebut berasal dari negara kita. Akan tetapi, apabila dilihat dari permasalahan yang menjadi latar belakang munculnya tagar #ShameOnSBY maka hal tersebut bisa dikatakan wajar. Secara garis besar, tagar tersebut muncul sebagai wujud dari kekecewaan sebagian besar rakyat (terutama di media sosial) tentang tata cara pemilihan kepala daerah yang baru. Sebagian besar beranggapan bahwa pemilihan kepala daerah yang selanjutnya tidak diadakan secara langsung, melainkan melalui anggota DPRD baik tingkat provinsi dan kabupaten, merupakan kemunduran dari perjalanan pelaksanaan demokrasi di negeri ini.

Salah satu yang menjadi alasan utama dari dipilihnya opsi ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa pemilihan langsung yang telah 10 tahun dilaksanakan memakan banyak sekali biaya. Penggunaan biaya yang begitu besar kemudian menjadi salah satu faktor utama terjadinya tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh banyak kepala daerah. Memang benar, hal-hal tersebut merupakan salah satu kelemahan yang sampai saat ini masih terjadi dalam praktek demokrasi di negara ini. Akan tetapi, bukankah salah satu esensi dari demokrasi adalah proses? Apalagi, sistem demokrasi yang diterapkan di negara ini bisa dikatakan radikal, dalam artian perubahan dari totaliter-terpusat jaman orde baru menjadi demokrasi-otonomi daerah di jaman reformasi.

Selama 10 tahun ini Indonesia telah berproses. Dengan segala kekurangan yang masih dimiliki, akan tetapi, menurut pendapat saya, negara ini telah menunjukkan progres positif. Terlepas dari masih banyaknya kepala daerah hasil pilkada langsung yang terjerat kasus korupsi, pilkada langsung juga telah memunculkan pemimpin-pemimpin daerah yang terbukti bersih, kredibel, inovatif dan membawa perubahan di daerahnya. Lihat saja Surakarta, Surabaya, Banyuwangi, Belitung Timur, Bandung dan beberapa daerah lainnya. Di wilayah tersebut, kepala darah yang dipilih langsung terbukti telah memberikan banyak gebrakan positif dan perubahan positif.

Lantas mengapa progress positif yang telah diraih kemudian malah mencoba dihambat oleh koalisi merah putih (KMP) dengan jalan merubah pemilihan kepala daerah melalui DPRD? Banyak yang mengatakan bahwa hal ini dilakukan KMP sebagai “balasan” dari kekalahan calon presiden yang mereka usung dalam pemilihan presiden lalu. Gemuknya koalisi oposisi ini di parlemen memudahkan mereka meloloskan berbagai agenda yang telah direncanakan, salah satunya UU Pilkada. Oposisi itu sehat, asal sesuai dengan “dosis”. Harapan saya, oposisi yang berada di parlemen tetap menempatkan kepentingan rakyat banyak daripada kepentingan koalisi saja.

Kembali lagi pada soal tagar #ShameOnSBY. Kebanyakan orang tidak ada hentinya menghujat beliau, bahkan saya pun juga berkicau dengan mencantumkan tagar serupa di medsos. Wajar apabila beliau dihujat. Sebagai presiden, sebenarnya beliau memiliki kewenangan untuk mencegah UU Pilkada ini tidak disahkan, yaitu dengan cara menarik rancangan UU yang diajukan oleh Kementerian Dalam Negeri kepada DPR. Akan tetapi, saat itu beliau memilih untuk diam, dan tetap meloloskan RUU tersebut untuk kemudian diproses di DPR. Walaupun pada akhirnya beliau juga menyatakan “keprihatinan” atas disahkannya UU Pilkada dan dibarengi dengan mengajukan Perpu pilkada, akan tetapi semua sudah terlambat. Banyak orang beranggapan bahwa pada akhir masa jabatannya beliau justru mengkhianati reformasi dengan mencoba menghambat proses demokrasi yang telah berlangsung lebih dari 10 tahun di negeri ini.

Akan tetapi menurut saya, beliau bukan satu-satunya orang yang harus dikambing hitamkan. Kita semua harusnya juga berkaca pada diri kita masing-masing. Apakah selama ini kita telah menyumbangkan pemikiran, gagasan dan solusi untuk kemajuan demokrasi? Atau minimal apakah selama ini kita telah berperan aktif dalam proses demokrasi? Mencoblos bagi yang telah memenuhi syarat, misalnya. Sudahkan kita melakukan hal-hal tersebut? Atau jangan-jangan banyak dari kita yang hanya acuh terhadap demokrasi? Hanya bisa mengkritik, menggerutu menghujat dan menyalahkan kelompok tertentu saja?

Banyak dari kita yang menolak keras dilakukannya pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Banyak dari mereka bilang bahwa salah satu hak paling utama mereka sebagai warga negara dirampas. Akan tetapi apakah selama ini mereka menggunakan hak yang dimiliki dengan baik? Apakah selama ini mereka menyalurkan suaranya dengan benar dan sesuai dengan peraturan? Atau jangan-jangan, banyak diantara kelompok ini yang justru membuang percuma hak suara yang dimilikinya? Bukankah dengan memilih untuk menjadi golongan putih menjadikan kemungkinan penyalahgunaan suara akan semakin besar? Bukankah dengan menjadi golongan putih hanya akan membawa stagnasi pada proses demokrasi?

Akan lebih baik apabila hak yang kita miliki dimanfaatkan dengan baik. Begitu juga dengan kewajiban negara, harus memberikan pelayanan (dalam bentuk apapun itu, sesuai dengan kewajiban) terbaik kepada warga negaranya. Apabila masih terjadi kekurangan jangan hanya menghujat dan kemudian apatis. Justru di era demokrasi seperti ini kita harus berperan aktif dalam proses pelaksanaannya. Jangan hanya lantang bersuara keras dengan menuliskan tagar #ShameOnSBY saja. Ada baiknya anda juga lantang bersuara, bercermin dan bertanya pada diri anda sendiri sembari menggunakan tagar #ShameOnYou.

Friday, May 23, 2014

Rinduku Padamu: Bis Sekolah

Langsung Jaya
Nama bisnya keren, Rukun Sayur
Gaya Putra

Sore itu saya begitu takut. Diantarkan oleh Pakdhe, sesekali meringis menahan sakit pada pergelangan tangan kanan saya. Ketika salah satu dokter tulang di RS dr. Oen memeriksa tangan saya, ketakutan itu pun semakin menjadi-jadi.
“kenapa kok tangannya bengkak begini?” Tanya pak dokter yang badannya (sangat) gempal.
“tadi pagi saya jatuh pas ikut olahraga pak” jawab saya.

Beberapa saat kemudian, pak dokter dengan seksama memeriksa tangan saya. Sebelumnya saya juga telah dirontgen untuk mengetahui kondisi pasti dari pergelangan tangan saya tersebut.
“kalau dilihat dari hasil rontgen, ada dua pilihan untuk penanganan tangan anda. Yang pertama melalui operasi, atau bisa hanya menggunakan gips saja”.

Sontak muka saya langsung pucat. Kata operasi terdengar begitu menakutkan bagi saya. Kalau disuruh memilih tentu saja menggunakan gips akan menjadi pilihan utama saya. Tetapi, ketika itu pakdhe meminta pertimbangan dahulu kepada dokter. Setelah beberapa saat berkonsultasi, akhirnya diputuskan saya tidak perlu operasi, cukup menggunakan gips saja.

Plooong. Itulah perasaan saya ketika keputusan untuk operasi ditanggalkan, dokter menyarankan untuk menggunakan gips saja. Sesaat saya merasa bahwa perawatan telah berkahir sampai disitu saja, yang dibutuhkan hanya memakai gips saja. Dokter juga sudah menyiapkan peralatan untuk gips yang akan saya pakai. Sampai pada akhirnya pak dokter mengajak ngobrol dengan saya.
“kelas berapa sekarang?” sambil memegangi pergelangan tangan saya.
“kelas satu SMP pak” jawab saya.
“sekolahnya dimana?” sambil tetap memegangi tangan saya, seperti mencari sebuah titik. Entah apa itu.
“sekolah di…..”

Kreeeeek…. Belum selesai saya menjawab pertanyaan pak dokter, secara tiba-tiba dia menarik pergelangan tangan saya. Dia mengembalikan posisi pergelangan tangan saya seperti semula. Ternyata dialog singkat tadi hanyalah pengalihan saja. Tanpa saya sadari, dibagian yang saya kira sudah “aman”, justru menjadi bagian yang paling menyakitkan dalam proses penanganan cidera pada tangan saya.

Cerita diatas adalah awal mula saya menjadi seorang “bismania”. Bismania disini bukan bermaksud menjadi seorang yang maniac terhadap bis. Akan tetapi sejak saat memakai gips di pergelangan tangan, saya akhirnya menggunakan moda transportasi bis untuk berangkat ke sekolah ketika duduk di bangku SMP. Sebelumnya setiap hari saya menggunkan sepeda, akan tetapi karena harus mengenakan gips, maka bis menjadi pilihan yang lebih tepat. Sebenarnya ada pilihan selain menggunakan bis, yaitu angkot. Akan tetapi entah kenapa, saya tidak menyukainya. Terlalu kecil dan sangat sempit. Itulah dua alasan mengapa saya tidak terlalu tertarik dengan angkot.

Kebiasaan naik bis ini kemudian berlanjut hingga tiga tahun lamanya. Meskipun tidak setiap hari, akan tetapi intensitasnya masih sering. Padahal apabila dilogika, berangkat menggunakan bis ini sebenarnya tidak sepenuhnya pilihan yang bijak. Pertama, jarak antara pool bis dengan sekolah (pool bis ini popular disebut sebagai pemberhentian “mesjid”) cukup jauh apabila dibandingkan dengan pool angkot. Kedua, saya harus mengeluarkan dana lebih untuk transport. Berbeda apabila saya menggunakan sepeda, gratis. Bahkan seringkali saya malah mendapt “konsumsi” dari pakdhe saya, tempat dimana saya menitipkan sepeda apabila ke sekolah.

Akan tetapi ada hal lain yang tidak didapatkan apabila saya memilih menggunakan sepeda atau bahkan angkot. KEBERSAMAAN. Ya, itulah motivasi utama saya menjadi seorang bismania. Dikelas, saya memiliki banyak teman yang berasal dari “lereng gunung” yang tiap hari menggunakan bis untuk berangkat ke sekolah. Kebersamaan yang kami jalin dari menjadi seorang bismania ini hingga saat ini menjadi perekat hubungan pertemanan kami. Dari menjadi bismania ini pula banyak sekali kenangan lucu, konyol dan bahkan bodoh yang hingga saat ini selalu menjadi bahan perbincangan ketika kita berkumpul.

Gak mbayar (tidak membayar). Tidak terpuji memang. Akan tetapi, hal tersebut beberapa kali kami lakukan. Meskipun kala itu ongkos naik bis untuk pelajar “hanya” Rp. 500 saja, akan tetapi apabila salah satu diantara kami berhasil “lolos” dari kondektur, hal tersebut menjadi kebanggan tersendiri. Biasanya, saking ramainya penumpang di dalam bis, sesekali sang kondektur “luput narik” ongkos dari kita. Ada satu tips untuk menghindar dari kondektur, caranya simple sekali. Ketika anda naik bis dari belakang, biasanya ketika bis penuh oleh pelajar, anda bisa bergerak perlahan ke bagian depan bis. Dengan melakukan itu, kemungkinan untuk bisa naik bis gratis bisa terwujud.

Memilih bis yang akan dinaiki. Ada beberapa kriteria bis yang menjadi pilihan kami. Pertama, bis tersebut harus cepat. Bis yang kami naiki tidak semuanya cepat, ada beberapa bis yang jalannya santai. Bagi kami, bis yang demikian tidaklah keren. Begenk dan Zere' merupakan dua bis yang kami beri predikat sebagai bis cepat. Kedua, bis tersebut harus bagus. Tidak semua bis yang kita naiki memiliki tampilan yang bagus. Beberapa bis yang kala itu bagian interiornya telah dirubah, atau bisa dikatakan dimodifikasi. Beberapa bis telah menggunakan interior yang dilengkapi dengan tv-vcd dan jok yang bagus. Walaupun seringkali music yang diputar dangdut atau campursari, paling tidak hal tersebut merupakan nilai tambah tersendiri dari bis tersebut.


Janjian naik bis yang sama. Ketika masih SMP, banyak dari kita yang belum menggunakan handphone. Jadi, kalau ingin berangkat bareng, sehari sebelumnya kita harus janjian terlebih dahulu.
I: “Sesuk numpak opo penake?”
F: “Rada awan wae, numpak Rukun nek ra Asereje”
I: “Yo, nek sesuk aku rung ana tinggalen wae rapopo”
Yah, kurang lebih seperti itulah percakapan yang kami lakukan sehari sebelumnya. Mungkin dulu hal ini terlihat biasa saja, akan tetapi apabila sekarang dipikir-pikir lagi, hal tersebut cukup unik.

Hafal plat nomer bis dan jadwal keberangkatannya. Mungkin ini sudah jamak terjadi pada penumpang regular bis. Begitu juga bagi kami. Sesekali kami menyebut bis tidak berdasarkan nama PO bis tersebut, akan tetapi berdasarkan plat nomernya. Kita menggunakan plat nomer ini menirukan istilah yang sering digunakan oleh sang kondektur. Biasanya sebuah bis disebut berdasarkan dua nomer belakang dari empat nomer yang berada di plat bis tersebut. Misalnya momer platnya AD 5679 F, maka bis tersebut biasa disebut dengan “79”. Pun dengan jam keberangkatannya. Kita sampai hafal apabila menggunakan bis tertentu kita telat sampai di sekolah. Bahkan tanpa melihat jam sekalipun.

Pool bus yang penuh dengan kenangan. Untuk urusan “nyegat bis” ketika pulang sekolah, kita memiliki dua opsi. Yang pertama daerahnya biasa disebut dengan “DPR”. Disebut demikian karena letaknya berdekatan dengan gedung DPRD. Jaraknya dari sekolah tidak terlalu jauh, mungkin 300-400 meter. Akan tetapi dari jarak tersebut kami memiliki banyak sekali kenangan yang sampai kapanpun akan menarik untuk kembali diulas. Mulai dari tindakan jahil “tragedi parkiran sepeda”, nyolong pepaya, makan tahu kupat, bersembunyi di parit ketika membolos dan masih banyak hal bodoh lainnya yang kami lakukan bersama.

Tempat kedua sering disebut dengan nama “gadean” (dari kata pegadaian). Dibandingkan dengan DPR, gadean ini letaknya lebih jauh lagi. Mungkin lebih dari 1km dari sekolah. Kami tidak sering menunggu bis disana. Biasanya hanya kesana apabila ingin membeli mie ayam. Dulu, di gadean terdapat warung mie ayam yang lumayan enak. Ditambah lagi harganya sangat murah. Kalau tidak salah satu porsi dihargai Rp, 1.500 saja. Pertimbangan lain mengapa kami menunggu bis di gadean mungkin karena ingin mencari suasana yang berbeda saja. Seingat saya begitu sih.

Semua kebiasaan tersebut praktis tidak kita lakukan lagi setelah duduk di bangku SMA. Beberapa dari kami berbeda sekolah. Beberapa lagi sudah mulai menggunakan motor, termasuk salah satunya saya. Sekarang setelah sekian lama, rasa-rasanya kok saya pengen nostalgia lagi. Kalau hanya sekedar naik bis saja saya masih sering melakukannya. Akan tetapi biasanya saya naik bis sendiri, tidak bareng dengan teman-teman. Tentunya tidak harus naik bis ke sekolah, tapi paling tidak kita bersama-sama naik bis.

Nah, dari keinginan ini tiba-tiba muncul sebuah ide menarik yang mungkin dalam waktu dekat bisa kita lakukan bersama. Sebentar lagi lebaran tiba, tentu saja banyak dari kami yang pulang ke rumah. Bagaimana kalau kita nanti “ngebis bareng”?. Kalau dulu jalur kita dari timur ke barat, kali ini kita ganti menjadi dari barat ke timur. Atau dengan arti lain dari Karanganyar ke TW. Jalur ini menjadi jalur paling memungkinkan bagi kita untuk bisa ngebis bareng.

Scenario awalnya, nanti saya akan naik dari Bejen, selanjutnya semakin ke atas kalian akan bergabung. Kita janjian naik bis yang sama, sekarang janjian sudah semakin mudah. Tinggal sms atau chatting saja bis apa yang saya naiki. Selanjutnya pemberhentian terakhir kita adalah di TW. Terserah nanti acara selanjutnya apa, yang penting kita bisa sesaat bernostalgia ngebis bareng. Kalau hanya jalan bareng menggunakan kendaraan pribadi, kita sudah sering melakukan. Tapi apabila menggunakan bis, mungkin ini bisa menjadi pengalaman baru bagi kita. Siapa tau nanti diantara kita ada yang gak bayar.

Persahabatan yang kuat tidak hanya didasari pada, kesamaan hobi, pertemanan yang lama atau bahkan berdasar pada materi semata. Terkadang hal-hal sepele bisa menjadi perekat kuat dalam suatu persahabatan. Bagi kami, inilah salah satu pengikat persahabatan kami. BIS…



Terima Kasih Mister Rudi "Record Breakers" Garcia



“I remember I went onto the internet and typed in 'Rudi Garcia' and the first thing I saw there was a video of him and his guitar doing the Porompompero. I said to myself, "Who the fuck have we got here?!" I was with the national team that day. I can still see myself with my computer on my lap and this guy with the guitar. I was with Pirlo at the time, I showed him this and said, "Look at who the fuck we've got!" Pirlo didn't know who he was either. Look, I'm not saying that I thought things would go badly. It's just that I didn't know him and the first image I had of him was of a guy playing the guitar. But today, honestly, I thank God that we got “Porompompero” - Daniele De Rossi.

Begitulah reaksi dari DDR ketika pertama kali mengetahui kabar bahwa manajemen Roma menetapkan RG (Rudi Garcia) sebagai pelatih anyar Roma. Apabila seorang capitano futuro saja bereaksi demikian, bagaimana dengan romanisti? Lebih keras lagi pastinya reaksi yang timbul. “Siapa Garcia?”, “Apa yang ia  ketahui tentang Serie A?”, “Apa mungkin dia mampu membawa prestasi bagi Roma?”. Kurang lebih itulah deretan pertanyaan yang mungkin lebih condong pada keraguan terhadap kemampuan dari sosok RG.

Diawal kedatangannya RG langsung “menggebrak”. Salah satunya yang paling diingat adalah ketika dia memberikan “perlindungan” kepada pemainnya. Dia menyatakan bahwa siapapun yang mengaku romanisti tetapi menghina pemain Roma tidak pantas menyebut dirinya seorang romanisti, lebih tepat apabila dia menyebut dirinya seorang Laziale. Hal ini mengacu pada peristiwa penghinaan kepada Miralem Pjanic yang dikatakan sebagai seorang gypsy karena telah memberikan ucapan selamat kepada Lulic, rekan senegara sekaligus pemain Lazio setelah memenangkan Coppa.

Perlindungan. Hal itulah yang sebelumnya tidak didapatkan pemain sejak era Luis Enrique, Zeman atau bahkan Andreazolli. Apa yang dilakukan Garcia ini sekaligus mengembalikan rasa percaya diri pemain yang sempat jatuh karena “tragedy 26 Mei” tahun lalu. Dengan perlindungan ini pula, RG ingin menunjukkan kepada pemain bahwa dia sepenuhnya percaya kepada kemampuan mereka. Bukti paling nyata adalah kepercayaan penuh yang dia berikan kepada seorang Gervinho. Meskipun permainannya belum sepenuhnya maksimal, akan tetapi pencapaian luar biasa Gervinho musim ini adalah berkat andil besar dari RG.

Selebrasi legendaris kemenangan di derby paruh pertama liga
“il derby non si gioca, il derby si vince” (partai derby bukan untuk dimainkan, partai derby harus dimenangkan). Kalau boleh memilih, maka saya akan memilih kalimat tersebut sebagai quote of the season dari seorang RG. Dia menyampaikannya sehari sebelum partai derby pada putaran pertama liga. Kalimat yang sangat kuat, sarat makna dan optimisme. Roma pun memenangkan partai tersebut. Bahkan seorang Balzaretti sampai menitihkan air mata ketika mencetak gol pertama Roma ke gawang Lazio. Begitu pun dengan De Rossi. Begitu dalam makna pertandingan derby kala itu bagi para pemain.

Di paruh pertama, RG berhasil mencatatkan rekor baru di Serie A. Roma berhasil meraih sepuluh kemenangan beruntun pada 10 partai awal liga. Sebuah pencapaian yang luar biasa, diluar prediksi semua orang. Tidak ada orang yang bisa membayangkan Roma dibawah asuhan RG mampu melakukan hal tersebut. Tentu saja jika hal ini berkaca pada pencapaian Roma di dua musim sebelumnya. Berturut-turut hanya mampu menempati peringkat ke-7 di akhir klasmen Serie A.

Capaian RG musim ini
Rekor baru yang dicatatkan RG tidak berhenti sampai disitu saja. Roma berhasil meraih 85 poin dari 35 laga di Serie A. RG mencatatkan rekor pribadinya sekaligus menjadi rekor pencapaian poin terbanyak dari klub. Rekor ini memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh Luciano Spalletti (80 poin, 2007-2008) dan Claudio Ranieri (82 poin, 2009-2010). Tiga poin terkahir ini diraih ketika Roma berhasil mengalahkan AC Milan dengan gol 2-0. Pastinya anda akan selalu mengingat gol indah dari seorang Pjanic. Well, apabila no Totti no Party, maka ada juga istilah no Pjanic no Magic.

Terakhir, rekor yang dicatatkan oleh RG di musim perdananya ini adalah diantara laga yang dijalani Roma musim ini (baik di Coppa maupun liga), Roma mampu mengalahkan seluruh tim yang berlaga di Serie A. Pada paruh pertama liga, tim yang belum bisa dikalahkan Roma adalah Torino, Sassuolo, Atalanta, Cagliari, Milan dan Juventus. Pada putaran kedua, seluruhnya bisa dikalahkan. Termasuk Juventus, ketika kedua tim bertemu di ajang Coppa. Secara keseluruhan Roma juga menjadi tim yang paling berkembang dari segi pencapaian poin dibandingkan musim lalu. Poin Roma musim ini meningkat 27 poin debandingkan dengan musim lalu. Tertinggi diantara pencapaian seluruh tim yang berlaga di Serie A. Sekali lagi saya katakana bahwa seluruh pencapaian ini benar-benar diluar dugaan.

Kini musim telah berakhir. Meskipun di tiga laga akhir Roma harus menderita kekalahan beruntun, akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi kepuasan atas capaian tim secara keseluruhan. Musim ini Roma bahkan telah melampaui target yang ditetapkan manajemen. Kembali berlaga di kompetisi eropa merupakan target awal yang dicanangkan manajemen. Itu artinya, minimal Roma harus finish di peringkat ke-5 klasmen akhir liga. Akan tetapi RG memberikan lebih dari apa yang diinginkan manajemen. Pada pekan ke-34 Roma telah memastikan diri lolos langsung ke Liga Champion musim depan berkat kemenangan di kandang Fiorentina.

Berkat pencapaiannya musim ini RG menjadi salah satu kandidat pelatih yang diinginkan oleh banyak klub. Mulai dari Monaco, PSG sampai Barcelona dikabarkan tertarik untuk menjadikan RG sebagai manajer baru. Akan tetapi Pakdhe Sabatini tidak tinggal diam saja, dia segera melakukan gerak cepat dengan menyodorkan kontrak baru bagi RG. Melipatgandakan gaji dan menambah durasi kontrak merupakan tawaran yang diberikan kepada RG. “It’s nice to see my name linked to big clubs, it’s the recognition of my work. Roma is one of the toughest teams to coach in Italy. Those rumors don’t change anything, I want to stay” - Rudi Garcia. Sudah jelas sekali pernyataan RG kan? Dia masih ingin tinggal di Roma.

“The management wants to make Roma one of the best clubs in Europe. You don’t achieve this target in a day, as Rome was not built in a day. But we are going in the right direction” - Rudi Garcia. Ya, bahkan kota Roma pun tidak dibangun dalam satu hari. Begitu pula dengan yang terjadi pada AS Roma. Butuh proses panjang untuk kembali membawa kejayaan bagi klub. Akan tetapi, rintisan yang dilakukan manajemen sejak tiga tahun terakhir sudah mulai membuahkan hasil. Saat ini Roma telah berada dijalur yang tepat.

Pertama adalah Roma memiliki tim pelatih yang sudah terbukti kualitasnya. Kedua, kombinasi antara pemain muda penuh potensi dan pemain senior yang kaya akan pengalaman. Memang masih perlu menambah amunisi untuk menghadapi kompetisi eropa musim depan, akan tetapi tidak usah kuatir, kita semua tahu bagaimana kualitas dan kapabilitas seorang Pakdhe Sabatini. Dan yang terakhir adalah manajemen yang mumpuni, berorientasi pada bisnis dan professional. Untuk beberapa tahun kedepan dipastikan pendapatan klub akan semakin meningkat. Apalagi jika pembangunan stadio della Roma rampung, maka pendapatan klub akan semakin berlipat.

Dan untuk penutup maka tidak ada habisnya kita harus mengucapkan terima kasih kepada seorang Rudi Garcia. Kedatangannya membawa banyak sekali perubahan di klub. Semoga apa yang dikatakan presiden James Pallotta bisa terwujud. Dia ingin menjadikan Garcia sebagai Alex Ferguson-Roma. Itu berarti bahwa manajemen menginginkan RG bertahan di Roma dalam jangka waktu yang lama. Dengan apa yang dimiliki Roma saat ini, mulai sekarang kita harus berani mengamini ambisi manajemen klub untuk menjadikan Roma sebagai salah satu klub terbaik di eropa.

Grazie Roma… Grazie Mister Rudi “Record Breakers” Garcia…



Thursday, December 12, 2013

Sudahlah PKS…

Akhir pekan menjadi hal salah satu hal yang menyenangkan bagi saya. Selain tayangan sepak bola, bisa berkumpul dengan keluarga juga menjadi kenikmatan lainnya. Maklum, sejak duduk dibangku SMP seringkali saya bisa berkumpul bersama keluarga tiap akhir pekan saja. Nah, salah satu kegiatan menyenangkan ketika berkumpul ini adalah menikmati masakan ibu. Ibu saya paling jago kalau sudah masak “asem-asem daging sapi”.

Salah satu gambar LHI yang jadi bahan olok-olok
Saat ini kalau ngomong soal daging sapi, pasti yang terlintas di pikiran kita adalah kasus korupsi daging sapi yang dilakukan kader PKS. Yang terlibat tidak main-main, PRESIDEN partainya. Saking besarnya ekspos media terhadap kasus ini, nama PKS bahkan sering dijadikan bahan olok-olok. Tidak usah saya sebutkan lah olok-oloknya seperti apa, ngeri juga misalnya nanti kena pasal pencemaran nama baik.

Sebenarnya sejak dulu saya kurang setuju apabila agama dibawa untuk berpolitik. Sempat pula kala pemilu tahun 2009 lalu, saya menjadi anomali dengan beberapa teman dikampus. Banyak teman yang bilang bahwa satu-satunya partai yang layak dipilih kala itu hanya PKS. Partainya bersih, anti korupsi dan bernafas islam. Menurut saya, kalau mau menegakkan agama ya lewat jalur agama saja. Apabila agama sudah dicampurkan dengan politik, pasti ujungnya juga mencari kekuasaan.

Kalau sudah berhubungan dengan kekuasaan ini, apa saja bisa dihalalkan. Dan hal itu bisa dilakukan oleh siapa saja, pun orang tersebut menyandang predikat udztad, macam mantan PRESIDEN PKS. Sang mantan PRESIDEN kemarin sudah diputuskan bersalah oleh pengadilan tipikor. Vonis hukuman 16 tahun penjara juga telah diketok oleh hakim. Ada yang menerima vonis tersebut seperti Menkominfo yang juga salah satu kader PKS, Tifatul Sembiring.

"Fakta persidangan harus jadi pelajaran semua orang, bahwa berniat pun sudah dihukum. Fakta persidangan, Pak Luthfi tidak terima uang langsung dari Indoguna. Yang terima (uang) Fathanah dan uang itu belum sampai (ke LHI). Kuota impor belum ditambah. Ini pelajaran bagi semua, khususnya bagi kader PKS, harus sangat berhati-hati, berniat saja tidak boleh" – Tifatul Sembiring.

Pernyataan bijak dari seorang petinggi partai yang kadernya divonis bersalah atas kasus korupsi. Seharusnya seluruh petinggi partai melakukan hal yang serupa. Segera mengakui kesalahan, meminta maaf kepada masyarakat. Akan tetapi sayang, pernyataan bijak hanya disampaikan oleh sedikit kadernya. Ada satu pernyataan yang membuat saya miris ketika membacanya.

“Sementara Luthfi yang dituduh menerima Rp 1,3 miliar dari Fathanah, yang pada kenyataannya tak menerima satu persen pun, divonis 16 tahun penjara. Jadi terkesan kalau ingin korupsi, korupsilah yang banyak supaya hukumannya ringan,” – Hidayat Nur Wahid.

Miris lihat gambar satu ini
Pernyataan seperti ini, meskipun itu hanya mengambil perumpamaan saja, menurut saya merupakan salah satu blunder terbesar elit PKS. Sudah terbukti bersalah, vonis sudah ditetapkan, tapi mengapa masih belum mau mengaku? Malahan sekarang membuat pernyataan macam itu. Lebih baik saat ini tim kuasa hukum dari PKS mempersiapkan bandingnya dengan matang. Jangan lupa berdoa, semoga vonisnya tidak lebih berat, seperti yang kemarin dialami Angelina Sondakh.

Keprihatinan saya terhadap PKS tidak cukup hanya disitu. Seringkali mereka menyatakan bahwa kasus korupsi ini adalah sebuah konspirasi. Kasus korupsi ini merupakan sebuah tindakan dzolim kepada PKS. Dan yang paling tidak suka adalah masih ada pembelaan berkedok alasan agama walaupun dalam proses persidangan tindak korupsi sudah jelas terbukti.

Seringkali modus ini digunakan
Jujur, saya salut kepada militansi kader PKS. Mereka begitu kuat dengan basis grass-root, kader partai ini begitu solid dan loyal. Hal ini juga jadi bukti bahwa proses kaderisasi yang dilakukan elit partai berhasil. Entah apa yang dijanjikan ketika elit partai bertemu dengan kedernya, sehingga mereka bisa begitu solid. Keadilan? Kesejahteraan? Atau mungkin surga? Whatever…

Banyak kader partai ini yang hidupnya sederhana, bersih dan berjuang demi partai. Tapi bagaimana dengan elit partainya? Kalian tidak lihat bagaimana kehidupan LHI? Rumah mewah, mobil mewah, istri tiga. Parahnya, istri ketiganya dinikahi ketika ketika masih duduk di bangku kelak 3 SMK. Mengapa tindakan seperti ini masih kalian bela? Masih belum cukup dengan LHI?

Masih ingat bagaimana respon awal elit partai kalian ketika Fathanah ditangkap? Ramai-ramai sekali menyangkal tidak mengetahui, tidak kenal dan sebagainya. Begitu KPK mengeluarkan bukti foto tentang keberadaan Fathanah bersama-sama elit PKS masih saja ditampik oleh elit PKS. Mungkin istilah habis manis sepah dibuang paling tepat dialamatkan kepada Ahmad Fathanah. Sudah capek-capek mengumpulkan “dana dakwah” tapi tidak diakui dan dibuang begitu saja oleh elit partainya.

Harapan saya sebenarnya cukup simple. Sudahi perjuangan mati-matian kalian para kader PKS yang membela elit yang sudah terbukti bersalah secara hukum. Tidak perlu lagi kalian membenci KPK. Kalian seharusnya berterima kasih kepada KPK, karena lembaga ini telah berusaha membantu untuk kembali mengembalikan predikat “bersih” kepada partai anda. Saatnya bagi kalian untuk mengakui kesalahan elit partai. Saya yakin sudah sangat banyak rakyat Indonesia yang sudah bosan dengan berbagai pembelaan kalian kepada elit tersebut.


Sudahlah PKS, semuanya sudah cukup. Terima kenyataan, hadapi dengan jantan, dan kembali lagi bersihkan partai anda. Walaupun saya bukan simpatisan ataupun kader partai anda, tapi paling tidak saya masih sudi mendoakan agar kedepannya kader partai ini bisa menjadi lebih baik, lebih bersih, lebih amanah dan tentunya lebih fathanah.

Wednesday, December 11, 2013

Indra Sjafrie; Tukang Pos Pembawa Optimisme Bagi Sepak Bola dalam Negeri

“Bagi kami tidak ada kata jenuh, kami semua disini adalah pejuang bangsa”. Begitulah jawaban dari coach Indra Sjafrie ketika saya melontarkan pertanyaan mengenai kiat-kiat apa saja yang dilakukan untuk mengusir rasa jenuh selama pemusatan latihan timnas U19 selama berada di kota Batu. Sebuah jawaban sarat makna dan penuh dengan optimisme.

Senin 9 Desember 2013, ditengah guyuran langit kota Jogja saya menjadi salah satu orang yang berkesempatan untuk dapat langsung berinteraksi dengan coach Indra melalui teleconference. Pelatih yang belakangan namanya melambung setelah memberikan gelar piala AFF U19 dan membawa Indonesia lolos pada putaran final AFC Cup U19 di Myanmar tahun depan.

Sore itu saya mengikuti acara yang diadakan oleh “teng-teng crit” (thenguk-thenguk crito/duduk-duduk sambil ngobrol). Sebuah komunitas diskusi di Jogja yang malam itu mengangkat tema sepak bola. Dalam acara tersebut, coach Indra menjadi salah satu narasumber. Selain coach Indra, ada pula narasumber dari BCS dan mas @zenrs. Memang percakapan yang dilakukan tidak terlalu lama, sekitar 20 menit. Maklum, ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tidak enak juga rasanya apabila mengganggu waktu istirahat beliau.

Selain pertanyaan dari saya tadi, malam itu coach Indra juga menjawab banyak pertanyaan dari mas @zenrs. Mulai dari pengalamannya selama menangani timnas, perkembangan terakhir kondisi tim di Batu, hingga pertanyaan mengenai sepak bola Indonesia secara umum. Setiap pertanyaan dijawab dengan lugas, jelas dan tanpa basa-basi. Berikut ini merupakan script hasil wawancara via teleconference dengan coach Indra.

Selama menjalani TC jangka panjang di Batu, salah satu hal yang ditakutkan menjadi penghambat adalah kejenuhan. Hal ini mengingat bahwa sebagian besar skuad yang ada merupakan pemain yang masih belia. Jadi apa saja kiat-kiat yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut?

“Bagi kami tidak ada kata jenuh, kami semua disini adalah pejuang bangsa. Saya lebih suka menyebutnya refreshing. Jadi selama di Batu di akhir pekan saya memberikan satu hari libur bagi tim. Dalam setiap kesempatan dihari libur yang saya berikan, kami melakukan berapa kegiatan salah satunya berkunjung ke tempat rekreasi. Kebetulan di Malang terdapat banyak tempat rekreasi yang dapat kami kunjungi. Selain itu, kemarin saya juga sempat mengundang keluarga dan juga pacar dari pemain.”

Bagaimana perkembangan terakhir tim di Batu?

“Secara keseluruhan kondisi tim saat ini bagus. Infrastruktur dan seluruh kelengkapan pendukung di tempat TC juga bagus”.

Bagaimana dengan support dari PSSI?

“Bagus. PSSI sepenuhnya memberikan dukungan pada seluruh kegiatan kami di sini”.

Kabar terakhir, ada pemain yang anda coret. Apa yang dijadikan pertimbangan dalam pencoretan tersebut?

“Iya, benar. Kemarin saya mencoret dua pemain. Keduanya mengalami cidera saat mengikuti TC. Hal tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu bukti bahwa mereka tidak mampu mengikuti metode latihan yang diberikan oleh tim pelatih U19. Kalau mengikuti metode latihan saja tidak bisa, mereka itu bukan pemain bagus.”

Apakah ada rencana untuk melakukan seleksi lagi?

“Tidak. Saya tidak akan mengadakan seleksi lanjutan. Saya telah memilih pemain dari hasil kunjungan saya ke 43 kota. Saya akan mencoba memaksimalkan pemain yang saat ini ada. Dari 40 orang yang kemarin dipilih, nanti jumlahnya akan diciutkan menjadi 23 orang. Jumlah pemain yang sesuai dengan peraturan untuk mengikuti kompetisi AFC Cup U19 tahun depan.”

Jadi saat ini tidak ada lagi harapan bagi anak-anak yang kemarin belum sempat mengikuti latihan dikarenakan berbagai alasan. Mereka saat ini mungkin hanya bisa berdoa saja terkait harapannya membela timnas U19?

“Jangan hanya berdoa saja. Mereka harus tetap berusaha. Kesempatan mereka untuk dapat membela negara selalu terbuka. Tapi yang jelas saya tidak akan melakukan seleksi lanjutan dalam waktu dekat ini.”

Bagaimana dengan pemain diluar skuad AFF dan kualifikasi AFC, apakah bisa mengikuti irama latihan dengan pemain lama yang sudah lebih dulu tergabung?

“Secara umum pemain bisa beradaptasi. Rata-rata pemain yang ada saat ini sudah memiliki teknik individu yang bagus-bagus. Banyak pemain yang memiliki kemampuan menggiring bola untuk kemudian melewati satu-dua pemain. Itu kan juga salah satu dasar dari teknik individu yang telah lebih dulu mereka miliki. Kedepan kita akan mencoba untuk membangun taktik bermain mereka dalam tim. Saat ini di Batu kita terlebih dulu fokus pada pembentukan fisik pemain. Ibarat membangun rumah, kita saat ini sedang membangun fondasi rumahnya. Nanti rencanya pada bulan Januari kita akan pindah ke Jogja. Disana kita akan mulai membangun teknik bermain seluruh pemain U19.”

Dalam tim anda saat ini, apakah ada pemain yang sebelumnya sama sekali belum pernah mengenyam pelatihan di SSB?

“Ada satu pemain, dia adalah Yabes Roni Malafeini. Bisa dikatakan selama ini dia berlatih sepak bola secara otodidak”.

Terkait dengan sepak bola Indonesia secara umum, menurut anda apa yang harus dilakukan untuk menjadikan sepak bola kita bisa lebih maju?

“Saya kira yang harus dilakukan adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin pelatih yang berkualitas. Di Indonesia ini sebenarnya banyak sekali pemain yang bagus, akan tetapi tidak digarap (dilatih) dengan baik. Tidak perlu lagi ada acara tim dikirim ke luar negeri untuk berlatih, itu hanya akan menghambur-hamburkan uang negara saja. Apabila tetap melakukannya, kita hanya akan dibodoh-bodohin saja sama bangsa asing. Kita ini pada dasarnya mampu kok melakukannya. Untuk pelatihan kepada pelatih, kita bisa memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh FIFA dan AFC yang setiap tahun memberikan fasilitas kepelatihan ke Indonesia. Selain dari sisi pelatih, sisi pemain juga harus dilakukan pembenahan. Caranya dengan membentuk SSB yang berkualitas sebanyak mungkin. SSB akan berkualitas jika pelatihnya juga berkualitas. Terakhir adalah dukungan infrastruktur. Pemerintah sudah seharusnya membuat sebanyak mungkin lapangan sepak bola di negeri ini.”

Lantas bagaimana pendapat anda mengenai banyaknya pelatih dan pemain asing di liga Indonesia saat ini? Apakah anda tidak setuju dengan keberadaan mereka?

“Saya tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Saat ini keberadaan pelatih dan pemain asing di liga Indonesia sudah terlalu banyak, apalagi banyak dari pelatih dan pemain ini kualitasnya cuma ecek-ecek saja. Tidak usah saya sebutkan juga seharusnya kalian banyak yang tahu soal ini. Ditambah lagi, kebanyakan pemain asing yang merumput di Indonesia ini menempati posisi-posisi kunci di tim. Penyerang, pemain tengah dan pemain belakang. Kalau hal ini terus-terusan dilakukan pemain kita akan semakin sedikit mendapatkan kesempatan bermain. Bagaimana bisa maju kalau begini.”

Untuk target di AFC Cup U19 nanti bagaimana?

“Tidak perlu ditanyakan lagi itu. Saya sudah berkali-kali menyatakan dengan jelas bahwa target kita adalah lolos ke piala dunia U20. Kita ini pada dasarnya mampu kok. Mental gagal jangan terlalu terpatri di negara ini, kita harus tetap optimis.”

Timnas U23 yang berlaga di Seagames baru saja bertanding, apakah anda menyaksikan? Bagaimana pendapat anda mengenai permainannya?

“Iya, barusan saya nonton timnas Seagames dengan tim pelatih. Kalau soal permainan mungkin saya tidak perlu banyak berkomentar.”

Lebih menarik permainan timnas U19 ya Coach?

“Ya pasti lah, sudah jelas itu”. (Mendengar jawaban ini, teman-teman yang hadir langsung bersorak riuh dan memberikan tepuk tangan meriah untuk coach Indra).

Terakhir, apa pesan dari anda?

“Saya ingin berpesan untuk seluruh masyarakat Indonesia, kini saatnya bagi kita semua untuk bersatu. Jangan lagi ada pengelompokan suporter, suporter a, suporter b. Harusnya tidak ada lagi yang seperti itu. Hanya ada suporter yang mendukung satu Indonesia. Selain suporter juga saya berharap pengurus juga harus bersatu. Tidak usah lagi sampai terjadi kisruh dualisme seperti beberapa waktu lalu. Masak iya kalian semua tidak malu dengan anak-anak yang saya latih. Mereka masih muda saja sudah bisa bersatu dengan solid. Terakhir yang terpenting adalah saya senantiasa memohon atas doa masyarakat Indonesia agar pemusatan latihan yang sedang diadakan bisa berlangsung dengan baik dan lancer, serta nantinya target mencapai lolos ke piala dunia U20 bisa tercapai.”

Demikian merupakan petikan wawancara via teleconference yang dilakukan. Singkat memang, akan tetapi dalam waktu yang singkat tersebut membawa pesan yang sarat akan makna. Setiap jawaban dari pertanyaan yang diberikan kepada coach Indra selalu dijawab dengan lugas dan penuh optimisme. Sebuah hal yang sangat jarang kita temui dalam diri sosok pelatih lokal dewasa ini.

Dengan optimisme yang tinggi itu pula coach Indra secara tidak langsung juga masih menjalankan pekerjaannya yang dulu sempat dilakoni, menjadi “tukang pos”. Pasca pensiun dari sepak bola, beliau sempat menjadi pegawai dari kantor pos, hingga jabatan terakhir yang sempat diemban adalah kepala kantor pos di salah satu daerah di provinsi Sumatra Barat. Belakangan pekerjaannya ditinggalkan karena dia lebih memilih untuk konsentrasi blusukan mencari pemain untuk timnas U19.

Seperti yang dikatakan oleh mas @zenrs, apabila dulu tugas dari coach Indra adalah seorang tukang pos yang mengantarkan surat, tetapi saat ini hal tersebut telah berubah. Saat ini tugas beliau adalah sebagai tukang pos yang mengantarkan optimisme bagi seluruh masyarakat Indonesia. Sebuah optimisme akan prestasi tinggi untuk sepak bola. Jika sebelumnya keinginan untuk tampil di piala dunia merupakan sebuah mimpi yang sangat tinggi untuk dicapai, akan tetapi dengan optimisme yang dibawa oleh coach Indra mimpi tersebut menjadi terasa realistis untuk diraih.

Terima kasih kepada coach Indra. Jangan lelah untuk menyebarkan optimisme kepada seluruh masyarakat Indonesia. Semoga perjuangan pajang anda berbuah kisah yang happy ending.

Monday, December 2, 2013

Untuk Roma, Bermainlah Dengan Hati Layaknya Totti

Photo by getty image
Akhir-akhir ini saya sedang getol-getolnya menonton film American Football. Mulai dari Two For The Money, We Are Marshall, Undefeated hingga yang terakhir saya tonton adalah Invisible. Dari keempat film tersebut, saya memilih Invicible sebagai film  American Football favorit saya sejauh ini. Film ini diambil dari kisah nyata seorang Vince Papale (Mark Wellberg). Seorang supporter sejati dari salah satu tim yang berlaga di NFL, Philadelphia Eagle.

Setting film ini adalah pada tahun 70-an, dimana kala itu perekonomian di wilayah “Phili” sedang memburuk. Banyak pengangguran di kota tersebut hingga mengakibatkan Papale juga menjadi salah satu korbannya. Dia kehilangan profesinya sebagai guru karena kebijakan yang diterapkan sekolah tempatnya mengajar untuk melakukan penghematan anggaran. Istrinya yang kemudian meminta berpisah menjadi pelengkap kesialan Papale.

Untuk menyambung hidup, Papale kemudian bekerja di bar milik seorang temannya menjadi bartender. Peruntungan Papale baru muncul ketika Philadelphia Eagle yang menghadirkan pelatih baru mengadakan open trial bagi semua penduduk kota. Hebatnya dia menjadi satu-satu orang dari ribuan peserta yang direkrut untuk memperkuat Philadelphia Eagle di NFL.

Dia dipilih bukan hanya karena pertimbangan teknis semata. Pelatih yang memilihnya juga memiliki pertimbangan nonteknis. Sebagai “putra daerah”, meskipun kala itu umur Papale telah menginjak 30 tahun, akan tetapi pelatih melihatnya sebagai pemain yang selalu bermain dengan hati. Kecintaan terhadap tim yang dia idolakan sejak kecil selalu memberikan energi lebih baginya di tiap sesi latihan.

Perjalanan karirnya di NFL tidak langsung mulus. Dalam pertandingan preseason, dalam 6 pertandingan pembuka tim ini selalu menelan kekalahan. Baru akhirnya pada pertandingan ke-7 tim ini mendapatkan kemenangan perdana. Kemenangan itu didapatkan kala Eagle bermain di kandang. Dan tebak, siapa yang menjadi pahlawan dalam pertandingan tersebut? Vince Papale! “putra daerah” yang selalu bermain dengan segenap hatinya ketika bertanding.

Quatrick Hasil Imbang
Tahukah anda salah satu penyebab hasil buruk yang didapatkan Roma musim lalu? Jawabannya adalah kehilangan banyak poin dari tim yang diatas kertas bisa dikalahkan. Setelah jawaban yang saya berikan pasti anda langsung merespon“Ini kan sepak bola, bukan matematika”. Ya, hal tersebut memang benar, akan tetapi jangan dilupakan juga bahwa musim lalu Roma mampu mengalahkan tim yang termasuk dalam the magnificent seven di Serie A.

Torino, Sassuolo, Cagliari dan terakhir Atalanta merupakan tim yang diatas kertas seharusnya bisa diatasi oleh Roma. Akan tetapi dari keempat pertandingan tersebut, Roma justru hanya mampu meraih hasil imbang. Khusus untuk pertandingan semalam saya memiliki beberapa catatan penting. Akan sangat menyenangkan apabila catatan saya ini bisa diberikan kepada om Rudi. Barangkali bisa membantu mengurangi kebiasaannya mencatat ketika pertandingan berlangsung  (*^&^%$%$#???/ ).

Seumpama malam ini saya bisa bertemu dengan om Rudi, ada satu pertanyaan yang sangat ingin saya sampaikan kepadanya. “Sebenarnya apa yang anda pikirkan dengan seorang Marquinho?”. Jujur saja, makin lama saya makin jengkel dengan pemain yang satu ini. Permainannya musim ini tidak kunjung membaik. Apalagi setelah insiden “banting botol” yang sempat dia lakukan ketika ditarik keluar saat pertandingan tandang melawan Sampdoria. Permainannya semalam sangat mengecewakan. Sering kehilangan bola, baik itu salah umpan maupun mudah terjatuh. Sebentar lagi bulan Januari, semongga pakdhe Sabatini mempertimbangkan pemain ini untuk dilego.

Gol Atalanta yang dicetak Brivio semalam memang terlihat sangat konyol. Kiper sarat pengalaman yang sebelumnya paling sedikit kebobolan di Seria A musim ini dengan hanya 3 gol bisa ditaklukkan dengan begitu mudahnya. Gol dari Brivio semalam juga mengingatkan saya dengan gol yang dulu pernah dicetak oleh Lamela kala Roma bertandang ke San Paolo dengan meraih kemenangan 1-3. Kebiasaan buruk “Saint Morgan” yaitu mrucutan (tangkapannya tidak lengket) kembali terlihat musim ini. Semoga performa MDS bisa kembali membaik di pertandingan selanjutnya.

Untuk pertama kalinya musim ini, DDR tidak bermain penuh. Dia digantikan oleh Ljajic yang semalam kembali tampil sebagai supersub dengan satu assist untuk gol Strootman. Yang membuat saya kaget adalah ketika ban kapten justru diberikan kepada Mehdi Benatia. Akhirnya teka-teki siapa kapten ketiga musim ini pun terjawab sudah. Sebelumnya saya mengira bahwa MDS atau bahkan Florenzi yang akan menyandang predikat tersebut. Semalam juga menjadi malam yang bersejarah bagi seorang Roman, dialah Frederico Ricci. Binaan primavera Roma ini resmi menjalani debutnya bersama. Meskipun singkat dan tidak terlalu memberikan pengaruh besar, tapi paling tidak dia telah mendapatkan kepercayaan dari om Rudi.

Saatnya Mencontoh Totti
Apabila gambar tersebut diamati, seharusnya gol yang dicetak Bradley semalam sah. Terlihat posisi Bradley dan Lucchini berdiri sejajar. Sebelum kejadian tersebut, pemain Atalanta bahkan terlihat dengan jelas menyentuh bola ketika menghalau tendangan Maicon. Jadi kesimpulannya Roma dirugikan wasit? Tidak sepenuhnya. Karena sebenarnya kerugian terbesar Roma disebabkan oleh dua hal. Yang pertama adalah taktik om Rudi, dan yang kedua adalah absennya Francesco Totti.

Corierre dello Sport
Sejak awal kedatangannya ke Roma, ada beberapa pengamat yang mencoba untuk mengingatkan Romanisti bahwa kelemahan mendasar om Rudi adalah dia hanya memiliki dua taktik. Taktik pertama adalah plan A, apabila taktik itu tidak berjalan maka akan diterapkan taktik kedua yaitu stick to plan A. Hingga pekan kesepuluh, mungkin taktik itu masih bisa membuahkan hasil baik. Akan tetapi setelah itu, tim lawan mulai bisa membaca taktik Roma. Lawan lebih memilih untuk menumpuk pemainnya di lini pertahanan, memberikan Roma kendali penuh, hingga pada akhirnya Roma tidak tahu musti berbuat apa.

Hal ini kemudian diperparah dengan absennya Francesco Totti. Sejauh ini Totti telah absen dalam 6 pertandingan. Dalam 6 pertandingan tersebut Roma hanya mampu meraih 2 kemenangan dan 4 kali imbang. Gol yang tercipta juga sangat minim dibandingkan dengan ketika Totti bermain, yaitu sebanyak 4 gol saja. Dalam kasus ini saya merasakan dua hal sekaligus, heran sekaligus kagum. Heran karena begitu berpengaruhnya seorang Totti bagi Roma, dan kagum dengan pengaruh besar Totti bagi Roma. Nah lho, bingung gak tuh?

 “And you guys are not the team that’s short on talent here today. And I swear you’ll never be again the team short on character. We need to find the soul of this team again. The soul that drove great Eagle players. Players like Norm Van Brocklin, Tommy McDonald, Steve Van Buren. They weren’t just out here playing for themselves. They played for a city. People of Philadelphia have suffered. You are what they turn to in time like these. You are what gives them hope. Lets win one for them. Let’s win one for us. Bring it in.” – Dick Vermell.

Dalam situasi seperti saat ini, kalimat yang diucapkan pelatih Philadelphia Eagle sangat tepat ditujukan kepada pemain Roma. Seluruh pemain harus bermain dengan hati mereka. Mereka tidak hanya bermain untuk mereka sendiri, mereka harus bermain untuk kota dan bahkan untuk seluruh Romanisti. Sudah saatnya seluruh pemain bermain layaknya Totti atau bahkan Vince Papale. Keduanya selalu memberikan yang terbaik bagi tim. Mereka melakukannya karena kecintaan kepada tim. Dan yang lebih penting lagi, mereka melakukannya dengan sepenuh hati.
Forza Roma!!!